MEMORIA SINTA




Pernahkah kau duduk di antara daun jatuh disapu angin semilir. Warna-warni kupu bercumbu dengan kuncup bunga di hamparan hijau mengelilingimu. Sementara suara anak-anak kecil tertawa ceria sambil bermain dengan layang-layang. Sebelum semua terjadi, begitulah bumi damai terasa. 

Hingga pagi itu, halilintar menyambar dari atap langit, seperti lidah kematian yang diulurkan menjilati bumi. Awan gelap datang berarak beriring memunculkan kegelapan. Kematian. Kematian untuk seluruh kedamaian dan kehidupan. Sementara itu tubuhmu bergetar ketakutan melihat keributan.

Dari gumpalan awan hitam diiringi hujan itu, suara aneh terdengar mengguncang, “Dengarlah, hai mahkluk bumi! Inilah kelahiran Indra, Dewa Godam, Putera penguasa langit Dyus Agung, yang lahir dari ibunda bumi, Tivi. Dengarlah gemuruh langkah Indra dan balanya. Lihatlah hujan, angin, topan, kilat dan sambaran halilintar yang memancar dari kuasa sakti Indra. Tunduk dan sujudlah!”

Lahir. Hidup. Mati. Lahir. Hidup tak berkesudahan, di tengah gemuruh kebinasaan dan genangan darah yang menguapkan kematian. Kehidupan dunia memang maya. Sebab, yang tampak oleh pancaindera adalah pancaran maya dari Brahma. Lantaran itu, dunia disebut Mayapada—tempat bayangan palsu. Sang pemenang tak lagi bangga menyebut dirinya pemenang sebab semua musuh telah terkalahkan. Kesombongan, keserakahan, dan kejahatan, janda-janda, anak-anak yatim yang tersungkur tak berdaya dalam derita panjang adalah kebanggaan.
***
Seperti yang sering kau katakan, bahwa perempuan tangguh adalah perempuan yang berani menjelajah alam. Kau selalu mengidamkan perempuan macam itu. Seruncing apa pun masalah yang ia hadapi, tak mudah dari mulutnya menjeritkan kata ‘aduh’ seperti ketika ia menginjak bebatuan tajam di pegunungan. Ia begitu tegar melawan badai dalam hidupnya seperti gunung itu sendiri, ia tak pernah goyah. Tapi, jika ia meletus, membaralah, goyahlah, hamparan bumi. Begitu tegarnya ia, begitu kuatnya ia, begitu tenangnya ia.

Kau berjalan di belakang punggung perempuan itu. Lho, bukankah semestinya lelaki yang berjalan di depan mununjukkan arah? Tidak, tidak, kau bukan lelaki pemberani menjadi pemimpin di depan. Perempuan bahkan lebih lihai menunjukkan arah, menunjukkan bagaimana enaknya, bagaimana baiknya. Perempuan itu lebih matang dalam memecahkan masalah, sementara lelaki kadang sering gegabah, tak memikirkan akibat jauh di depan. Sungguh?

Apa yang hendak kau cari di atas puncak sana. Perjalanan masih jauh. Apakah kau kuat? Puncak gunung Penanggungan masih terlihat abu-abu.

Ya, memang. Dulu, nama gunung yang terletak di antara Pasuruan dan Mojokerto itu adalah Panandusama (Bahasa Kawi/Jawa kuno) yang memiliki arti “dipikul bersama” kemudian orang-orang menyebutnya Penanggungan—ditanggung bersama. Apakah kau ingin mencari sekawan-sepenanggungan?

Ya, memang. Dulu, gunung itu sering digunakan para Rsi dan Brahman tempat laku tapa. Oleh karenanya, sekarang pun banyak candi yang terletak di sekitar gunung itu. Apakah kau ingin menandai cintamu seperti adanya candi itu, sebagai penanda? Meskipun menjadi purba, selalu bisa kau sapa.

Kabut gelap berlarian dibawa angin dari timur menerpa tubuhmu yang menggigil. Batas pandang terlalu pendek. Kanan-kiri sepi, seperti dunia hampa. Seperti dunia kematian. Apakah kau takut mati? Hanya cinta, katamu, yang mendekatkanmu pada kematian.

Salahmu sendiri mencintai orang yang salah. “Bukan, bukan aku yang salah. Memang aku bisa menciptakan perasaan cinta? Tuhan yang buta, melemparkan cinta seenaknya.” sanggahmu.

“Memang beginilah adanya. Kita seperti diperkosa oleh perasaan cinta. Dan, kita, hanya bisa menerima dengan merasakannya. Pasrah. Itu saja.” saut perempuan itu.

Tapi bagaimana pun kita memang tak punya kuasa apa pun. Suatu ketika kita harus menyerah menuruti keinginan orang  lain. Bukan cita kita sendiri.” lanjutnya.

“Lalu, bagaimana dengan nasib cintaku ini? Apakah aku harus melempar kerinduan jauh darimu. Muhal. Semudah dewata memindah gunung Meru dari India ke pulau Jawa. Aku manusia.

“Manusia kadang harus meniru sifat dewa. Yang tak mungkin menjadi mungkin. Dewa Siwa dan Wisnu ketika memindah gunung Meru saja pucuknya tercecer, yang salah satunya menjadi gunung Penanggungan ini. Kita harus melakukannya, meski mungkin kerinduan kita akan tercecer pada sebuah undukan masa silam yang menyakitkan. Yakinlah! Kelak, kita akan menjadi lebih kuat. Kuat menahan gejolak hati. Seperti halnya gunung yang kita injak ini. Kuat.”

Bukan titisan Indra jika tak ngotot dan keras kepala. Kau tak akan menyerah sebelum mendapatkan yang kau inginkan. Mematahkan keyakinan yang sudah mendarah-mendaging terbilang susah. Tapi itu yang harus kau lakukan. Sulitnya seperti mematikan bara dalam hatimu sendiri. Tapi kau tak akan menyerah melawan keyakinan orang tua bodoh itu.

Dalam keyakinan orang jawa, apalagi keturunan ningrat—orang tuanya—kau bukan orang yang cocok untuk anaknya, setelah mereka tahu wetonmu Jum’at Pon, mangsa Kapitu. Sedangkan ia Selasa Pon, mangsa Karo. Cocoknya dengan Kasadasa, Kanem, Kaso, Saddha, Kapat, atau Desta tapi tidak dengan mangsa Kapitu, sepertimu.

Bagaimana, belum menyerah? Keyakinan mereka pada hitungan primbon jawa atau pranata mangsa lainnya juga bukan tanpa alasan. Orang yang tak mempercayainya mungkin akan bilang hal itu klenik. Satu bulan kemarin, puteri Pak Sabirin nikah bertepatan dengan hari geblak si Mbah Buyutnya, beberapa hari kemudian, lantas suaminya mati kecelakaan. Entah apa hubungannya antara kematian dengan hari geblak si Mbah Buyut. Orang-orang lama masih meyakini keterkaitan hal tersebut.

“Jodohmu memang sulit, Kang. Karena orang yang terlahir mangsa Kapitu sifatnya pemalu. Tapi, ketika sudah kenal memang kau bisa lebih agresif. Sudahlah! Latihanlah bersabar. Baru saja kau mendapatkan hati gadis yang kau idamkan, ada saja masalahnya. Makanya, jauh-jauh sebelumnya ketahui dulu tanggal lahir si perempuan. Agar, di kemudan hari tak terjadi siksa dalam batin.” begitu kata temanmu, yang edan dengan ilmu jawa itu.
***
Tiada kau sangka, ha? Hahaha… Dunia berputar tiada terkira. Yang di atas bisa jatuh ke bawah, yang di bawah jatuh ke atas. Jatuh kok ke atas? Hahaha…

Akhirnya, ia jatuh dalam pelukanmu walau keperawanannya sudah direnggut orang lain. Tapi tak apa. Bagimu, yang penting bukan itu. Ada alasan-alasan lain di balik cinta. Apa itu? Hahaha… Dunia telah diliputi materi. Kau butuh materi. Hahaha… Tentu. Hidup tanpa materi di dunia seperti sekarang sangat sulit. Yang berkuasa yang menang. Yang banyak uang yang berjaya.

Orang yang lahir mangsa Kapitu sepertimu dalam kuasa Indra. Mangsa Kapitu lama orbitnya 43 hari dan candranya “wisa kentas ing maruta” yang artinya “bisa disapu angin”. Kau seperti debu? Dibawa angin kesana-kemari. Kau seperti bunglon? Hidup menyesuaikan dalam segala keadaan.

Besar sekali pengaruh betara Indra dalam jiwamu. Masa kecilmu dulu sering sakit-sakitan, karena tubuhmu memang ringkih. Kau selalu menghindari pertikaian, karena sebenarnya kau bukan seorang pemberani. Kalau kau sedang marah, kau menjauh dari keramaian, duduk menyendiri dan diam, sebab jiwamu lemah.

Hai, bunglon, apa kabar? Setelah malam pertamamu tidur bersamanya, apa yang kau lakukan? Rupanya kau berhasil memilikinya setelah sekian lama menunggu sambil minum air. Minum? Berenang sambil minum air, kata orang. Itu pribahasa orang-orang nusantara.
“Nikmatnya hidup.” katamu setiap pagi.
***
Lahir. Hidup. Mati. Lahir. Hidup. Mati. Ini Mayapada, bukan? Hujan turun mengiring kepergianmu. Halilintar menyambar lagi kala senja itu. Bumi kelap-kelap seperti waktu kelahiranmu. Tapi, mendadak langit cerah setelah pemakaman usai. Angin berhembus lembut. Lirih-lirih terdengar nyanyian syahdu dari balik langit. Terdengar begini syair lagu itu:

Wong takon wosing dur angkoro
(Orang-orang bertanya kapan angkara murka berakhir)

Antarane riko aku iki
(Di antara kau dan aku)

Sumebar ron-ronaning koro
(Tersebar daun-daun kara)

Janji sabar, sabar sak wetoro wektu
(Bersabarlah untuk sementara waktu)

Kolo mangsane, ni mas
(Suatu ketika, dinda)

Titi kolo mongso
(Pada suatu ketika)

Pamujiku dibiso
(Doaku semoga)

Sinudo kurban jiwanggo
(Semakin berkurang korban jiwa raga)

Pamungkase kang dur angkoro
(Pengakhir angkara murka)

Titi kolo mongso
(Pada suatu ketika)*

Kemudian lenyap entah kemana.

Di antara kerumunan orang yang mengantar kepergianmu yang mengenaskan itu, berdiri seorang perempuan dengan wajah sayu. Nanar matanya masih saja anggun seperti anggur.

“Sabarlah, Sinta, seharusnya kau tak menikah dengan lelaki itu.”

“Ya, memang, seharusnya aku tak termakan dengan obralanya yang menyesatkan.”

“Mulutnya seperti patih Sengkuni.”

“Salahku mendengarkan omongannya. Harta keluargaku telah habis dihambur-hamburkan lelaki bajingan itu. Sekarang aku telah kehilangan Rahwana, sebenarnya ia suami yang bisa melindungiku. ”

“Semoga Tuhan mengampuni dosanya setelah ia menceburkan diri dalam lubang gelap perempuan yang ia selingkuhi. Poligami? Omong kosong!”

“Ya. Semoga Dia mengampuni mulutnya yang lamis. Mengatas namakan cinta atas nama Tuhan, padahal untuk nafsunya yang membara.”

Dalam balutan cahaya terakhir surup itu, aku ucapkan selamat tinggal padamu dengan taburan bunga yang kujatuhkan di atas batu nisan bertuliskan nama: RAMA. Kelak, dalam hidupmu selanjutnya, pasti kau mengerti makna cinta yang sesungguhnya. Selamat jalan, Rama.

*Lagu “Pada Suatu Ketika” dikarang oleh Sujiwo Tejo

Keterangan:
Weton                 : Hari lahir seseorang dengan pasarannya (Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon)
Geblak                 : Hari kematian
Pranata Mangsa: Ketentuan musim dalam penanggalan jawa. Biasanya berkaitan dengan penentuan hari baik atau buruk.
Kapitu                 : kelahiran 23 Desember- 3 Februari
Karo                    : 3 Agustus- 25 Agustus
Kasadasa           : 27 Maret- 14 April
Kanem                : 10 November- 22 Desember
Kaso                   : 23 Juni-2 Agustus
Saddha               : 13 Mei-22 Juni
Kapat                  : 19 September-13 oktober
Desta                  : 20 April-12 Mei


Previous
Next Post »