Celana Dalam Nabila JKT 69


Kelakuan teman SD saya satu ini sudah terlampau aneh di pikiran saya. Namanya juga sekolah, seharusnya yang dibawa ke sekolahan itu buku, kamus, alat hitung dan barang-barang yang mendukung belajar, dong! Tapi tidak, anak ini malah bawa kaca cermin.

Buat anak lelaki, untuk apa bawa cermin ke sekolah? Apa anak ini sangat peduli dengan penampilannya. Artinya, ketika ada yang kurang beres dengan penampilannya, dia langsung dapat check  dan recheck wajahnya. Jika demikian, kenapa wajahnya masih saja semrawut seperti itu? Lha wong dia itu, anak yang rambutnya acak-acakan keriting tak bisa diatur, rambut merah karena sering terkena terik matahari. Kulitnya hitam kumus-kumus karena sering berendam di sungai kampung selama berjam-jam. Lantas buat apa bawa cermin ke sekolah jika perawakannya hancur seperti itu?

Satu ketika akhirnya saya paham, buat apa sebenarnya cermin itu. Berawal dari jam istirahat, waktu itu saya melihat teman yang duduknya di sebelah saya, berlagak aneh dan tiba-tiba raut mukanya berubah tegang. Semakin saya perhatikan, gerak-geriknya semakin ganjil. Geser kiri, geser kanan, mencari posisi yang pas sambil memegangi kaca cermin di tangan kanannya yang di taruh lebih rendah dari pantatnya. Dengan kaca kecil di telapak tangannya, ia seperti sniper jitu yang sedang mengarahkan tembaknya ke objek yang sedang dibidik.

Karena penasaran, saya mendekat, memanjangkan leher ke kaca cermin yang di pegangi teman saya. Saking asyiknya memainkan mainannya, sepertinya ia tak sadar atau mungkin tak menghiraukan saya yang semakin mendekat di sampingnya.

Yang saya lihat, di kaca cermin itu hanya bayangan gelap. Tapi di sudut pandang teman saya, sepertinya ada bayangan yang lebih menarik di kaca cermin.

“Putih...” gumam teman saya.

Saya masih belum paham, apa maksudnya ‘putih’. Apa mungkin ia sedang melihat penampakan pocong di kaca ajaibnya itu.

“Celana dalam. Anak di belakang kita, warnanya putih...”

Saya pun kaget dan terperangah. Kemudian saya cepat-cepat memalingkan wajah ke belakang. Ada wajah lugu teman perempuan saya, yang sedang ngobrol dengan Yayuk.

Haduh! Edan ini anak. Ternyata sedari tadi ia sedang mengintip celana dalam milik Umi, perempuan tak berdosa yang duduk di bangku belakang kami.

Dasar saya anak baik dengan pendidikan agama yang baik dari kedua orang tua saya, kebatilan seperti ini tak bisa saya diamkan. Saya pun langsung meneriakkan kebenaran.

“Mi, Anumu... Anumu.. diintip!”

Mendengar omongan saya, ia bingung. Plonga-plongo koyok ketek ketulub. Saya menunjuk-nunjukkan jari saya ke bagian anunya dia, lalu ke kaca yang dipegang teman saya. 

"Hem... " sambil menunjuk anu. Lalu, "Hem... " menunjuk kaca cermin di tangan teman saya. Gitu baru ia paham. Ia langsung menjerit-jerit tak karuan. 

Teman saya yang memegang cermin tadi terpingkal-pingkal bukan buatan dan sepertinya puas atas keberhasilan aksi yang dilakukan. Setelah puas tertawa, ia mengabarkan ke seluruh anak yang ada di dalam kelas bahwa celana dalam yang dipakai Umi warnanya putih.

Umi menangis tak henti-henti karena malu, lalu diantar pulang sama Yayuk.

Teman saya yang usil tadi, untuk kesekian kali, dibawa ke kantor sama Pak Guru. Kali ini ia tak boleh masuk sekolah selama satu Minggu.

***
Beberapa tahun kemudian, teman saya bersenjata kaca cermin tadi masih melanjutkan profesinya sebagai tukang intip. Tapi kali ini, alat yang digunakan sebagai senjata intip bukan kaca cermin bekas kotak bedak milik ibunya, seperti yang ia gunakan kala SD. Ia memiliki alat yang tentu saja sangat kekinian. Alatnya sekarang kaca cembung yang dibenamkan di dalam kamera masa kini, DSLR Canon EOS D7 Mark II.

Sekarang ia mengaku sudah jadi fotografer handal di media massa Jakarta. Ia memang masih kerap menjalin hubungan dengan saya karena pada akhirnya saya benar-benar berpisah dengannya baru setelah lulus kuliah. Sikapnya yang jahil dari masa SMP, SMA, sampai kuliah tak pernah berubah. Saking lamanya bersama, sedikit atau banyak, sifat usilnya pun menulari saya. Benteng agama yang dibekalkan pada saya tak mampu membendung. 

Malam ini, ia mengirimkan sebuah foto hasil jepretannya yang aduhai mengundang nafsu berahi; membuat otot tegang dan ketegangan otot arus bawah pun terjadi. Ini dia salah satu foto yang ia kirimkan melalui mesenger WhatsApp:

Foto Nabila dari teman saya 
Foto di atas merupakan foto dari sekian foto yang paling tertutup auratnya. Saya tunjukkan yang ini saja agar para pembaca tak ikut tegang seperti yang saya alami sekarang.

Setiap biji foto yang ia kirimkan, saya tegaskan lagi, sangat nikmat sebagai objek melampiaskan nafsu.

“Gimana, gimana, mantap gak?”
“Mantap,” jawab saya.
“Bentar-bentar, masih banyak... aku lancrotkan lagi kirimnya.”

Sebagai anak yang dididik dengan pendidikan agama yang sangat kental dari kecil sampai dewasa ini, melihat gambar-gambar seperti yang dikirimkan teman saya, batin saya sebenarnya menjerit-jerit, menolak-nolak. Jelas ini dosa. Tapi jika dilewatkan juga sayang. Melihat gambar bahenol lalu dilunasi dengan hal-hal yang dirahasiakan lelaki tentunya amat nikmat, bukan?

Sekali lagi saya memandang gambar Nabila yang saya bagikan ke kalian. Saya tertarik memperhatikan gambar satu ini karena Nabila memang perempuan cantik yang saya akui kemegahannya. Ketika tersenyum, gigi gingsulnya itu, lho! Selalu menambah kemanisannya semakin manis.

Setelah mengamati bagian wajah yang cantik itu, pandangan saya turun ke bawah, di area dada. Tak ada yang menarik, biasa saja. Ke bawah lagi ah! Di situlah celana dalam Nabila terpampang. Pameran yang tak kalah megah dengan kecantikannya.

Sesudah melihat bagian paling intim itu, pandangan saya kembali ke atas, memerhatikan wajahnya untuk yang kesekian kalinya. Ia tampak menyungging senyum. Posisi duduknya seperti ada di gambar sepertinya nyaman-nyaman saja buat dia. Meskipun celana dalamnya kelihatan, ia tampak biasa saja. Saya kok malah jadi ingat Umi, teman saya di SD, yang menangis ketika celana dalam putihnya diketahui segelintir publik.

Saya yang hampir dibuat melampiaskan nafsu dengan cara lelaki malam ini malah jadi kepikiran, apa ya, bedanya anak perempuan dulu dengan anak sekarang? Untuk mencari jawaban itu, saya jadi ketiduran.

***
Esok harinya saya bangun. Pagi-pagi saya sudah buka Facebook. Di beranda medsos warna biru matang itu saya dapati foto Nabila, sama persis seperti yang saya bagikan pada kalian. Foto tersebut diunggah oleh media online www.detak.com, mengabarkan kalau JKT 69 habis jumpa fans setelah konser.

Saya pun jadi kecewa. Lah gimana tidak, saya kira, foto Nabila yang saya bagikan kepada kalian di sini adalah foto limited edition yang hanya dimiliki teman SD saya yang ditunjukkan pada saya lalu saya bagikan pada kalian. Saya kira hanya saya dan kalian yang membaca cerita ini yang bisa melihat foto tersebut. Ternyata eh ternyata, foto Nabila dan celana dalamnya itu menjadi milik seluruh warga negara Indonesia yang bisa mengakses internet. Bahkan celana dalam Nabila itu mungkin telah menjadi milik anak SD zaman sekarang.

Begitulah pikir saya.

Ketika saya akan tidur malam ini, saya jadi berpikir lagi, enak ya jadi anak SD sekarang. Tak usah bawa cermin ke sekolah, mereka sudah bisa menikmati celana dalam. Milik Nabila JKT 69 lagi... 

Gambar 1: fineartamerica.com
Gambar 2: kaskus.com

Lanjut ke Surat dari Presiden
Previous
Next Post »

3 comments

Click here for comments
17 April, 2015 21:22 ×

anjir, kacau. haha

Reply
avatar
17 April, 2015 21:34 ×

Tak terbayangkan kacaunya pikiran anak SD sekarang,

Reply
avatar
17 April, 2015 22:00 ×

pasti ada sesuatu yang pernah dia liat sebelumnya, yang ia bisa melakukan hal yang engga banget kaya gitu. pasti

Reply
avatar