Pantai Bolu-bolu, Akhir Cerita dari Negeri Dongeng

Ketika dulu masih sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah), ada roti namanya roti Bolu. Bentuknya kotak kubus, warnanya cokelat, enak. Pada roti itu, campuran telur sangat terasa. Jika orang tua saya kebetulan lagi banyak uang, saya dikasih sarapan itu. Biasanya sih gak sarapan. 

Itulah yang ada di pikiran saya ketika tujuan kami selanjutnya dan terakhir adalah pantai Bolu-bolu. Dan pantai itu, saya duga akan enak dinikmati seperti roti Bolu. 

Tapi entahlah, mari kita buktikan!

Satu hal yang membuat saya wegah adalah; saya harus naik perahu lagi. Ombak di depan itu sudah mulai menyerukan pertempuran. Mau tidak mau harus dilewati. 

Pelampung dikenakan, mari bertempur lagi. Mereka bilang, 'tak ada kenikmatan kecuali setelah ketakutan dan perjuangan'. Jadi marilah kita nikmati perjalanan ini. 

Blaarr…. Blaarr.. Blarr.. Tak perlu saya ceritakan lagi bagaimana kronologi peristiwanya. Sebelumnya sudah saya ceritakan di sini: melawan ombak di pantai Lenggoksono

Pertempuran gelombang kedua ini waktunya lebih pendek yang pertama, mungkin hanya lima menit. 

Setelah itu ketenangan terasa lagi di tengah laut. Batu karang yang menjulang tinggi sesekali menyapa kami selama di tengah laut itu. Batu karang di tengah laut yang setiap hari digembleng oleh ombak itu, beberapa berbentuk karya seni karya alami alam yang aduhai , unik nan apik. Ada yang mirip dengan bangunan candi, ada yang menyerupai wajah perempuan, mall, supermarket, warung kopi dan terserah orang yang memandang. 

Sebelum sampai di Bolu-bolu ada pantai bening yang entah apa namanya saya lupa. Pantai itu bisa digunakan snorkeling. Coba cari di google map kalau ingin tahu namanya. 

Saya tidak tertarik dengan mainan air itu. Waktu tadi saya pamit sama Emak mau berangkat ke pantai, beliau berpesan, "Ojo nyemplung laut!" Artinya di google translate, jangan tergoda perempuan cantik di laut. Modyar!

Dan pesan itu memberi alasan tepat untuk mendukung dompet yang tipis. Apalagi menyewa alat-alat main snorkeling itu tidak murah. Bluron saja zaman sekarang harus pakai perlengkapan.

Dan akhirnya saya hampir sampai di pantai Bolu-bolu. Pantai ini tampak hampir sama dengan pantai yang tadi saya lupa namanya. Airnya cetek (dangkal), segala sesuatu di dasarnya bisa terlihat dari atas perahu. 

Kalau mau di snorkeling di sini juga bisa tapi terumbu karangnya lebih bagus di sebelah sana, mungkin. Saya kan tidak tahu.

Tapi di Bolu-bolu memiliki keunggulan lain. Di sini ada gua, yang mungkin di pantai sebelah tidak ada. Tapi ndak tahu juga, saya kan tidak mampir. 

Gua ini semacam gua Hiro, tempat Nabi mendapat wahyu. Saya pun datangi gua itu, berharap mendapatkan sesuatu. Tapi kenyataannya tak mendapat apa-apa selain kesepian. Duh!

Di pantai Bolu-bolu juga ada warung penjual es degan. Di ujung sana ada anak pencinta alam mendirikan tenda, di sana ada orang mendayung perahu. 

Ini saja, gambarnya biar bercerita sendiri. 
Pantai Bolu-bolu Malang
Seseorang sedang mengarungi laut Bolu-bolu
Pantai Bolu-bolu Malang
Air jernih pantai Bolu-bolu
Pantai Bolu-bolu Malang
Hamparan Bolu-bolu
Pantai Bolu-bolu Malang
Hamparan senja, 'oh, Senja yang Bening!'
Tamat. Demikian, pantai Lenggoksono dan segala dongeng di dalamnya.  
Previous
Next Post »