Sebenarnya untuk Apa Bersedih atas Wafatnya Abah Hasyim?

Haris Suhud dan Abah Hasyim Muzadi
Mondok di Al Hikam

Saya mondok di pesantren kiai Hasyim Muzadi selama empat tahun (2009-2013), di Al Hikam Malang. Empat tahun lulus sesuai dengan jenjang pendidikan di sana untuk santri Pesma (santri yang kuliahnya di luar tapi ngajinya di Al Hikam).

Empat tahun lulus, tapi tepatnya saya tinggal di pondok ini lima tahun. Setelah lulus, seharusnya langsung boyong. Tapi enggak, saya kadung krasan di sini. Pokok ada kamar kosong, tinggal ditempati saja.

Lagi pula sama ustadz-ustadz boleh tetap tinggal di pondok meskipun 'kontraknya' sudah habis. Asal tetap ikut ngaji. Kalau bisa, lebih baik ikut bantu-bantu menjaga ketertiban adik-adik santri junior. Tapi bagaimana bisa, lha wong kadang ngurusi diri sendiri saja masih blepotan.

Sampai di sini saya ingin mengatakan bahwa saya pernah mondok di pesantren mendiang KH Hasyim Muzadi.

Sebagai santrinya, mestinya saya orang yang paling sedih ketika Abah pergi. Maksud saya pergi untuk selamanya.

Nah, apakah saya bersedih ketika Abah tindak?

Selama lima tahun mondok di Al Hikam, saya tidak benar-benar dekat dengan Abah. Saya tahu, Abah jarang di Malang. Beliau sedang merintis pondok Tahfidz Quran waktu itu, yang kelak jadi Al Hikam 2 di Depok.

Namun bukan berarti Abah juga tak pernah ke Malang. Setiap awal bulan, Abah pulang ke Malang. Bersama dengan kesempatan ini, jadwal bagi santri di Al Hikam Malang tiap awal bulan adalah Tanbihul 'Am.

Tanbih: peringatan
'Am: umum

Jadi, Tanbihul 'Am adalah majlis untuk memberi peringatan (untuk santri-santri yang gleyor seperti saya) di muka umum. Artinya diikuti seluruh santri.

Dan betapa malasnya saya mengikuti acara ini. Sebagai anak yang masih bangga-bangganya jadi mahasiswa, adalah suatu kebanggaan jika mengikuti kajian filsafat-filsafat seperti mengaji pemikiran Karl Marx dan kawan-kawannya. Lha ini disuruh ikut mendengarkan petuah-petuah, lalu apa kata dunia?

Jika seandainya boleh, saya ingin keluar saja. Ngopi sama temen-temen. Tapi acara ini hukumnya wajib. Gerbang pondok ditutup dan dijaga jelang acara Tanbih. Gak ada santri yang boleh ngeluarin sepeda motor. Boleh keluar, tapi akan diinterogasi dulu sama ustadz. Dan itu menakutkan!

Begitulah, mendengar nasihatnya saja males. Lalu bagaimana mungkin saya bersedih ketika beliau wafat? Mestinya biasa saja, gak usah terlalu dramatis. 


Kabar Abah Wafat
 
Kamis (16/3) pagi, saya mendapat kabar Abah kapundut. Jauh hari sebelumnya saya memang sudah tahu Abah gerah. Kabarnya, makin hari kondisinya makin kritis. Tapi ketika mendengar kabar duka itu, saya masih saja terkejut. Bukan terkejut sih, intinya badan ini terasa lemes. Alam pikiran langsung semburat campur aduk.

Pagi itu juga saya langsung ke pesantren dan suasana sudah ramai dengan manusia. Sehabis sholat jenazah, saya keluar masjid, ketemu dengan temen-temen alumni; ngobrol, ketawa-tawa, seolah lupa ke pondok ini sebenarnya untuk berduka cita dan bela sungkawa.

Namanya sudah ketemu sama temen-temen lama, ya, jadinya ngobrol ngalor-ngidul yang menyenangkan.

Jadi bagaimana, sedih Abah sekarang sudah tidak ada?

Masih di pondok Al Hikam Malang, saya melihat peti jasad Abah yang mau diberangkatkan ke Depok untuk dibumikan di Al Hikam 2. Sampai di sini, saya merasa sedih. Malang telah kehilangan pentolan, sesepuhnya, sebagai penjaganya.

Pulang dari takziah, saya masih mengikuti prosesi pemakaman Abah lewat layar kaca. Pemakaman baru selesai jelang magrib.

Malam harinya saya berangkat kerja dan menyusuri jalanan kota, melihat lampu gebyar-gebyar di kanan-kiri jalan. Entah, saya rasakan warna Malang kok tampak beda saat itu. Kedip lampu-lampu yang nakal. 


Kemudian saya berpikir: 'Jika Malang makin nakal, jika nanti Indonesia menyeleweng, siapa yang ngasih arahan? Sementara itu, Abah, kiai Hasyim sudah gak ada di dunia. Bagaimana nanti kalau Pak Jokowi ingin minta saran darinya, di mana ketemuannya?'

Tapi itu soal lain, bukan urusan saya. Masalahnya, sekarang, saya bukan pengikut paham yang digagas Karl Marx yang dulu saya gandrungi. Saya adalah pengekor dawuh-dawuh Abah. Gagasan Abah 99% saya ikuti. Saya tiru. Sebab, saya percaya bahwa Abah adalah orang yang baik, pintar, pengetahuannya luas, alim.

Beliau bukan guru saya yang setiap hari bisa saya temui, beliau bukan guru yang biasa menyebut nama saya: 'Haris Suhud, kamu harus begini atau begini. Bahkan beliau, saya sangat percaya, tidak pernah mengenal saya.

Pertama dan terakhir Abah mungkin mendengar nama saya yaitu ketika pembawa acara (MC) prosesi wisuda tahun 2013 memanggil nama saya untuk naik podium untuk membacakan orasi santri (Baca: Hikam, Hikmah, Hakim) yang bahasa Inggrisnya amburadul. Itupun kalau Abah mendengar. Kalau misal waktu itu Abah sedang ke toilet ya mboh..... Sepanjang hayatnya, pasti beliau tak pernah tahu kalau ternyata ada anak yang namanya Haris Suhud pernah nyantri di pondoknya.

Sekarang beliau sudah pergi. Saya sudah kehilangan seorang guru yang menjadi pegangan. Menyadari kenyataan ini, saya mulai jadi sedih mendalam.

Saya sendiri juga gak ngerti kenapa merasa punya kedekatan ruh dengan Abah meskipun waktu nyantri dulu hanya jadi santri nakal. Gak tau apa yang menjadikannya melekat, dan sampai sekarang pun saya tetap memiliki kedekatan dengan pesantren Al Hikam/

Meskipun tadi saya katakan saya santri yang males untuk mengikuti Tanbihul 'Am, bagaimanapun, saya tetap menghormati beliau sebagai kiai, ulama, beliau adalah tokok besar bangsa ini. Itu semua tak pernah saya ingkari.


Berkarya untuk Al Hikam


Tahun 2014, saya sudah tidak tinggal di Al Hikam lagi. Tapi saya masih tinggal di Malang dan masih sering ikut pengajian Sarah Al Hikam.

Pada awal tahun 2016, ketika saya sedang apel di rumah pacar saya di Tuban, saya dapat telepon dari ustadz Nafi'. Beliau minta pada saya menemui beliau di ndalemnya di kemudian hari, ndalemnya masih di lingkungan pesantren Al Hikam. Mohammad Nafi' ini adalah wakil pengasuh Al Hikam, tangan kanan Abah karena beliau yang mengasuh pondok Malang selama Abah di Depok.

Dalam pertemuan di Malang, ternyata saya diminta untuk membantu menulis buku tentang seluk-beluk Al Hikam mulai awal hingga sekarang. Ustadz Nafi' minta bantuan saya ini karena dalam satu kesempatan-- termasuk saat ngaji Sarah Al Hikam-- beliau tahu saya sering menulis.

Singkat cerita, saya sanggupi permintaan tersebut. Itung-itung semoga jadi sumbangsih saya untuk Al Hikam. Di sisi lain, saya juga bimbang. Pasalnya, selama mondok di Al Hikam, saya itu santri mbeling. Mondok di Al Hikam cuma sekedar mondok saja: makan, tidur, guyon, dan main kartu sama Gus.

Dan sekarang saya dimintai bantuan menulis seluk-beluk Al Hikam mulai dari sejarah, visi dan misi, penjabaran logo pondok, program kesantrian dan lain sebagainya. Saya yang mengerjakan? Kan Aneh!

Bismillah, dijalani saja. Tinggal ngumpulin data-data dan dibantu dewan ustadz. Akhirnya jadilah-- Baca: Profil Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam.

Di kemudian hari setelahnya, ternyata masih ada sambungannya amanah ini. Ustadz Nafi' kembali meminta agar saya menulis gagasan-gagasan Abah dalam bidang pendidikan. Saya tahu apa soal ini?

Pak Nafi' banyak cerita sekitar materi yang perlu disinggung dalam tulisan nantinya. Saya baca sejumlah buku sebagai referensi. Selain itu, saya juga jadi lebih sering mendengarkan pidato-pidato Abah di Youtube. Saya menikmatinya. Saking menikmatinya, kadang sampai lupa merangkum apa yang disampaikan Abah. Maka hingga sekarang, tugas ini belum terselesaikan.

Belum kelar tugas yang ini, ustadz Munzin (salah satu dewan asatidz di Al Hikam) mengubungi saya untuk bergabung dalam tim menulis biografi Abah. Nah, ini ada tim. Saya jadi lebih semangat biar gak mengerjakan sendiri. Untuk proyek ini, masih dalam tahap rapat-rapat. Dalam rencana yang disusun, harapannya, agar bisa wawancara langsung dengan Abah yang super sibuk. Sayang, beliau terlalu cepat meninggalkan kami.

Harapan kami ketika Abah gerah mulai bulan Januari, akan kembali sehat. Namun dalam waktu tiga bulan, kondisi beliau semakin melemah yang kami tak pernah mengira akan secepat ini.

O, ya.. Ketika Abah masih sehat dan kami berencana membuat biografi, beliau menyampaikan: 'Masih hidup kok sudah dimanaqibi'. Itulah kenapa, Abah lebih berkenan jika yang dibukukan adalah gagasan beliau, bukan kisah hidupnya.

Sekarang beliau sudah tidak ada. Biografi beliau belum ada. Semoga setelah tulisan ini, mozaik-mozaik perjalanan Abah beserta gagasannya segera terkumpul.
Previous
Next Post »