Singkatnya, program kami di kawasan transmigrasi Distrik Klamono adalah mendampingi lembaga ekonomi agar dapat berfungsi dengan baik. Kemudian kami fokus menyasar lembaga ekonomi koperasi agar memiliki unit usaha untuk membantu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Misal, koperasi dapat berfungsi sebagai pelaku utama dalam memasarkan hasil-hasil produksi petani, menyediakan kebutuhan produksi pertanian, dan bisa memberikan permodalan jika diperlukan. Bukan hanya di bidang pertanian saja, koperasi juga bisa memberdayakan kelompok pembudidaya ikan dan lain sebagainya.
Pada tahun sebelumnya (2025), sudah ada Tim Ekspedisi Patriot yang bertugas di kawasan transmigrasi Distrik Klamono ini, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka sudah melakukan pemetaan potensi di kawasan transmigrasi Klamono-Segun. Pada akhir tugas selama kurang lebih selama empat bulan, mereka menghasilkan sebuah laporan tentang potensi kelembagaan yang bisa direvitalisasi di kawasan transmigrasi Klamono-Segun. Rekomendasi yang mereka suguhkan adalah melakukan implementasi sebuah model pemasaran yang bisa dikembangkan, yaitu Model NOKEN (Naungan Operasional Kolaborasi Ekonomi Nyata).
Tujuan dari implementasi model tersebut ringkasnya adalah untuk memutus rantai niaga, agar harga jual yang didapatkan petani jauh lebih tinggi tanpa ketergantungan pada tengkulak yang membuat rantai niaga umumnya menjadi lebih panjang yang mengakibatkan harga yang didapat oleh petani sangat rendah.
Dengan model tersebut, para pelaku ekonomi juga bisa menekan modal produksi dengan sistem angkut dua arah yang dimaksimalkan. Artinya, saat kendaraan berangkat memuat hasil produksi dalam proses kirim pada pembeli besar (off-taker), ketika pulang pun kendaraan tersebut harus memuat barang-barang yang dibutuhkan oleh para petani. Ongkos kirim barang akan lebih murah karena dilakukan bersama dalam jumlah besar dan kebutuhan input produksi juga lebih terjangkau karena dilakukan dengan pembelian jumlah besar. Semua proses tersebut harus bisa dikelola dengan baik. Dan koperasi memiliki peran penting sebagai pelaksana utama penerapan Model NOKEN yang kami maksud.
Dalam implementasi model pemasaran ini juga dibutuhkan modifikasi jadwal tanam dan panen agar hasil produksi bisa berkelanjutan dan mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Model pemasaran seperti ini yang paling cocok melihat lokasi Klamono yang cukup terisolasi.
Jumat, 8 Agustus 2028, kami berangkat lagi ke Klamono untuk kedua kalinya. Mulai hari itu, kami jalan tanpa kehadiran Ketua Tim, Dr. Panji. Selebihnya selama empat bulan ke depan, ketua hanya akan mengarahkan, memantau dari jarak jauh dan berkunjung ke sini dalam satu bulan sekali selama beberapa hari saja. Artinya, kami berlima harus bisa mengambil inisiatif sendiri untuk mewujudkan apa yang telah kami programkan bersama.
Pada kunjungan kedua ini, kami ingin melihat sisi Klamono yang belum pernah kami temukan. Kami ingin menjajaki seluas apa Distrik Klamono. Dan jika memungkinkan akan mengunjungi 10 kampung yang ada di Distrik Klamono.
Setelah kami memperhatikan dan menyusuri jalan utama yang menghubungkan antara Aimas-Klamono—yang juga menghubungkan dengan Sorong Selatan—10 kampung di Klamono hampir tidak ada yang berada di pinggir jalan utama tersebut, kecuali Kampung Posa. Selebihnya, kampung-kampung tersebut berada di pedalaman yang dihubungkan dengan jalan antar desa. Dan saat itu, kami belum tahu lokasi masing-masing kampung.
Dari jalan utama Aimas - Klamono, kami sempat melanjutkan perjalanan melewati jembatan yang membelah Sungai Klasafet (Beraur). Setelah sungai itu ternyata sudah masuk ke distrik lain, yaitu Distrik Klasafet. Hanya beberapa menit kemudian, kami sudah kembali memasuki kawasan hutan. Kami tidak tahu apa yang ada di ujung sana, maka kami memutuskan putar balik.
Setelah itu, kami berhenti di warung panggung yang pernah kami kunjungi di hari sebelumnya. Pemilik warung ini ternyata orang Madura dari Situbondo. Namanya Ibu Sukahartini. Kami langsung akrab dengan ibu tersebut karena di dalam tim kami juga ada satu anak dari Madura, Agung.
Kami perhatikan Agung dan Ibu Madura langsung asyik berbincang dengan bahasa mereka. Kami tak paham apa yang mereka bicarakan. Hanya ada satu hal yang dapat kami pelajari dari sini bahwa kehadiran orang Madura dalam tim ekspedisi di Papua ini juga tak kalah penting dibanding kehadiran teman-teman OAP (Orang Papua Asli), yang dalam proses rekrutmen teman-teman OAP cenderung mendapatkan prioritas karena dianggap lebih mengenal daerah Papua.
Ibu Sukahartini orangnya baik dan pandai bergaul. Sudah 13 tahun ia tinggal di Papua, tepatnya di Klamono ini. Ia lebih dikenal oleh orang sekitar dengan sebutan “Bude Lele” sebab ia memulai kariernya di sini sebagai penjual olahan ikan Lele. Warung sejenis rumah panggung tersebut bukan miliknya sendiri, ia sewa senilai 25 juta per tahun.
“Bu De, kami mau berkunjung ke salah satu kampung yang ada di Klamono ini, di mana kampung yang paling dekat?” Tanya kami kepadanya.
“Di sebelah itu adalah rumah Kepala Kampung Posa.” Jelasnya sambil menunjuk rumah yang terlihat dari tempat kami berdiri.
“Jadi warung ini masuk di Kampung Posa?”
“Benar."
Setelah selesai makan di warung tersebut, kami segera menuju Balai Kampung Posa karena kepala kampung yang kami cari sedang berada di sana menghadiri acara yang dilaksanakan oleh kelompok lain dari Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya juga.
Kami disambut dengan baik. Lalu kami menyampaikan maskud kedatangan kami dan berkenalan. Kepala Kampung Posa tersebut bernama Paulinus Momot. Dalam obrolan dengannya, kami banyak bertanya dan menyampaikan rencana program yang akan kami lakukan, yakni terkait pemberdayaan koperasi.
Dari penjelasannya, kami cukup memahami gambaran atau kondisi perkoperasian yang ada di Klamono secara umum, khususnya di Kampung Posa. Ia menjelaskan bahwa bahwa pengurus koperasi di kampungnya masih awam pengetahuan soal tata kelola koperasi. Ia meyakini masalah tersebut juga dialami di kampung-kampung lain. Ia juga menegaskan bahwa dari 10 kampung di Distrik Klamono, masing-masing sudah memiliki susunan pengurus koperasi karena program pemerintah era presiden Prabowo Subianto yang ingin mendirikan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh desa di Indonesia.
Program tersebut masih belum berjalan, setidaknya di seluruh Klamono, karena para pengurus koperasi yang telah dibentuk belum memiliki bekal dan juga pengetahuan dasar dalam menjalankan koperasi. Sehingga sejauh ini belum ada aktivitas satupun untuk menghidupkan koperasi. Bahkan tidak sedikit pengurus yang sudah terlanjur masuk dalam struktur pengurus tapi belum tahu tentang tujuan dan manfaat berkoperasi. Apalagi tentang tata kelolanya. Apalagi untuk menyadarkan dan mengajak masyarakatnya untuk berkoperasi.
Di Kampung Posa sendiri belum ada jejak tentang keberadaan koperasi. Kampung Posa baru berdiri sebagai kampung definitif sejak tahun 2016. Berada di kawasan transmigrasi Klamono-Segun, perjalanan kampung Posa bukan berawal dari Satuan Pemukiman (SP) yang disiapkan oleh pemerintah dalam program transmigrasi di masa lalu. Kampung ini tumbuh secara organik di mana lahan-lahannya merupakan peralihan dari tanah adat setempat. Kampung Posa saat ini tercatat dihuni oleh 149 Kepala Keluarga atau sekitar 297 jiwa.
Setelah selesai berkunjung dari Kampung Posa, kami hendak mengunjungi Kampung Klawana berkat arahan dari Kepala Kampung Posa. Klawana ini dulunya merupakan SP (Satuan Pemukiman) yang disiapkan untuk para transmigran yang sekarang sudah menjadi sebuah kampung definitif. Sayangnya, kami tidak bisa menemui Kepala Kampung Klawana karena ia sedang sakit.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke kampung lain yaitu Kampung Wonosari. Namun kami gagal sampai di lokasi karena melihat kondisi jalan yang terjal dan curam, sangat sulit kami lalui menggunakan kendaraan roda empat biasa. Kampung ini berada di dataran rendah. Dari jalan raya ke area kampung, terdapat sebuah jalan menurun yang cukup curam. Meskipun jalannya dilapisi beton, tapi sudah rusak parah yang membuat jalan tersebut makin sulit dilalui. Maka kami pun mengurungkan keinginan masuk ke kampung tersebut.
![]() |
| Jalan yang curam dan rusak menuju Kampung Wonosari yang sulit dilalui. |
Jalan utama ke Wonosari dari Klawana sebenarnya juga sudah menggunakan beton. Namun di beberapa titik mengalami kerusakan parah dan di sejumlah titik jalannya miring atau termakan longsor. Sebagian besi yang menjadi rangka jalan ada yang sudah tidak menyatu dengan beton.
Saat perjalanan dari Kampung Klawana menuju Kampung Wonosari, kami melihat satu bangunan gerai KDKMP yang 100 persen sudah jadi tapi belum beroperasi. Selain gerai tersebut, tidak ada lagi duanya di seluruh distrik Klamono.
Setelah mengatahui lokasi Kampung Wonosari yang menurut kami sulit dilalui mobil, kami memutuskan kembali pulang ke rumah di Aimas.
Sepanjang perjalanan pulang, kami memikirkan peran koperasi yang akan kami berdayakan untuk mendukung kesejahteraan di kawasan transmigrasi ini. Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya yang dikirim ke kawasan transmigrasi Klamono-Segun sejumlah 20 tim. Nah, masing-masing tim tersebut memiliki tema pendampingan sendiri. Ada yang melakukan pendampingan kelompok di bidang pertanian, budidaya, pengolahan, pemasaran, dan lain sebagainya. Dari hasil pendampingan tersebut diharapkan dapat meningkat hasil produksi yang lebih masif. Namun jika aspek pemasaran tidak diperhatikan, maka produksi yang meningkat pun tidak akan bermuara pada kesejahteraan masyarakatnya. Maka di sinilah peran koperasi. Koperasi bisa menjembatani antara produksi dan pasar. Demikian juga menjadi pendukung kebutuhan-kebutuhan dalam proses produksi, setelah masa pendampingan oleh Tim Ekspedisi Patriot berakhir.
Konsep transmigrasi masa kini bukan hanya memindahkan penduduk seperti konsep di masa lalu. Dulu, pemerintah menjalankan program memindahkan penduduk ke wilayah-wilayah tertentu untuk pemerataan pembangunan. Mereka diberi rumah, diberi lahan untuk digarap, dan diharapkan akan menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Selain itu, juga untuk mengurangi kepadatan penduduk di Jawa dan pulau lainnya.
Transmigrasi saat ini lebih dari itu, bukan sekadar memindahkan orang saja, tapi juga proses perpindahan ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi ke kawasan transmigrasi yang melibatkan akademisi perguruan tinggi agar ilmu yang dimiliki oleh para sarjana bisa diaplikasikan langsung di lapangan. Pada akhirnya, bukan hanya kawasannya saja yang berkembang tapi juga manusianya; bukan hanya memindahkan manusia tanpa bekal ilmu pengetahuan, namun juga menciptakan wilayah yang berkembang berbasis ilmu, inovasi, dan teknologi. Ujungnya, akan menciptakan peradaban baru yang tumbuh lebih maju.
![]() |
| Saya sedang swafoto bersama Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanegara saat acara pembekalan dan pemberangkatan di Jakarta. |
Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang merupakan salah satu program flagship Kementerian Transmigrasi telah dimulai dari tahun 2025. Sebagai program lanjutan, hasil dari TEP tahun 2026 diharapkan berbeda dari tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya hanya melakukan pendataan dan pemetaan, maka di tahun ini harus dapat melakukan implementasi untuk memaksimalkan potensi yang ada. Tujuannya agar kawasan transmigrasi Klamono-Segun segera memulai langkahnya menjadi kawasan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Ada gula, ada semut.” Kata Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanegara yang mendasari lahirnya program TEP ini.



0 Comments