Matahari mulai turun di ufuk dan hari pun mulai redup. Kami hendak kembali ke rumah kontrakan dengan roda empat bersama satu tim.
Belum lama kami keluar dari Klamono, seorang pemuda mencegat kami di tengah jalan. Ia tampak butuh bantuan. Kami mengira mobil yang ia tumpangi sedang mogok. Mobil itu menepi di pinggir jalan.
Kami ingin menunjukkan simpati. Kami pun membuka kaca jendela mobil dan memelankan lajunya.
Anak muda yang menghadang kami di tengah jalan tersebut mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya kurang jelas di telinga kami, tapi kami mendengarnya, “Apakah kalian dari Klamono?”
Kami tidak paham apa maksud dari pertanyaan tersebut dan apa tujuannya bertanya hal itu. Kami segera merasakan ada sesuatu yang tidak beres ketika melihatnya dari jarak lebih dekat di mana ia berjalan seperti sempoyongan. Raut wajahnya pun seperti lemas.
Tidak perlu kami jawab pertanyaan itu, kami cepat-cepat menutup kembali kaca jendela mobil. Dan kami semakin yakin pemuda itu sedang mabuk, apalagi setelah ada satu temannya yang tiba-tiba muncul dari balik mobil dan meminta kami melanjutkan perjalanan.
Kami kembali teringat pesan saat pembekalan sebelum berangkat bahwa kami sebagai pendatang memang harus bisa menjalin hubungan baik dengan orang-orang di Papua. Namun kami juga diingatkan agar tidak buru-buru terlibat jika menemukan suatu keributan. Bahkan untuk sekadar melerai, misalnya. Jika ada apa-apa, lebih baik segera meninggalkan tempat perkara dan tidak terlibat di dalamnya.
Dan kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan yang sama seperti saat kami berangkat. Jalan yang banyak tikungan, tanjakan, dan turunan, sementara di samping kanan kirinya banyak tetumbuhan liar khas hutan tropis, jika tidak bisa dikatakan hutan belantara. Jarak antara kampung satu dengan kampung lainnya cukup jauh. Tidak ada penerang jalan dari Aimas hingga Klamono kecuali sangat terbatas pada lokasi-lokasi tertentu saja.
Hari itu, 4 Agustus 2026, adalah pertama kalinya kami menginjakkan kaki di Kawasan Transmigrasi Distrik Klamono setelah beberapa hari sebelumnya lebih banyak beraktivitas di Aimas dan Kota Sorong. Klamono inilah yang akan menjadi tempat kami melakukan pendampingan bagi masyarakat transmigrasi.
Pemandangan perumahan penduduk dan hutan yang mengelilingi Klamono dapat kami lihat dari sisi atas, sebelum mobil kami menuruni tanjakan. Kesan pertama kami, meskipun kawasan ini cukup terisolasi, tapi masih bisa dikatakan ramai. Fasilitas-fasilitas dasar seperti sekolah, pertokoan, tempat ibadah, dan lain sebagainya sudah tersedia.
Nah, lokasi pertama yang ingin kami kunjungi di Klamono adalah Kantor Distrik Klamono. Tapi sebelum itu, kami mampir dulu di masjid Klamono untuk sholat Dhuhur. Ketika kami menggunakan toilet di masjid itu, salah satu kamar toiletnya tidak bisa digunakan karena tidak ada air.
“Apa benar di Klamono ini benar sulit air, Bu?” Tanya kami kepada seorang perempuan yang katanya sebagai pembantu di rumah yang ada tepat di depan masjid tersebut.
“Benar, di sini memang sulit air.” Jawabnya dengan penekanan nada khas orang Papua.
Rata-rata warga yang tinggal di sini hanya mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Oleh sebab itu, di seputaran masjid banyak tandon yang digunakan untuk menampung air hujan atau air bantuan dari luar.
Orang-orang sudah banyak yang mencoba membuat sumur bor, tapi hasilnya tidak begitu maksimal. Sebenarnya, di Klamono terdapat sungai yang sangat besar. Orang-orang menyebutnya Sungai Klasafet (Beraur). Air sungai itu tak pernah habis. Dan ketika kami di sana, airnya pun sangat melimpah dan dapat dilintasi oleh perahu-perahu kecil. Hanya saja airnya keruh.
Kenapa sungai yang besar itu tidak dapat memberikan sumber air? Ketika mencari sumber air, yang sering ditemukan oleh mata bor hanya bebatuan keras yang tidak bisa ditembus, atau justru minyak mentah. Begitulah jawaban-jawaban yang bisa kami dapatkan sementara ini.
Setelah menunaikan sholat Dhuhur di masjid, lalu kami dikejutkan ketika melihat salah satu teman dari Tim Ekspedisi Patriot –yang merupakan Orang Asli Papua (OAP)—berdiri di pelataran masjid dan membawa tikus bakar. Besar. Katanya, ia baru saja beli tikus tersebut dari pasar. Pasar yang ia maksud adalah Pasar Klamono. Pasar tersebut sangat sederhana di mana terdapat beberapa orang yang berjualan berderet di pinggir jalan, mungkin tidak lebih dari 10 orang. Mereka menjual berbagai jenis dagangan termasuk buah, sayur, pinang, dan salah satunya adalah tikus panggang yang dibawa oleh teman kami tersebut.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Kantor Distrik Klamono. Untuk menuju ke lokasi, dari jalan utama Klamono, kami masuk ke sebuah pertigaan yang jalannya tidak cukup baik. Meskipun sudah berupa beton, tapi banyak yang sudah mengelupas. Sepanjang jalan itu, jarak antara rumah dengan rumah lainnya cukup jauh. Tidak ada bangunan mewah, kecuali gereja.
Lalu kami mendapati Kantor Distrik Klamono berada di atas lahan yang cukup luas dan terpisah dari pemukiman warga.
![]() |
| Tim 16 Ekspedisi Patriot sedang berbincang dengan Kepala Distrik Klamono di depan kantor. |
Di Kantor Distrik Klamono kami disambut dengan baik oleh Kepala Distrik, Oktovianus Kolin. Kepadanya pada pertemuan pertama itu, kami Tim 16 berkenalan dan menyampaikan bahwa selama berada di Klamono, kami akan melakukan pendampingan terkait pembedayaan lembaga ekonomi koperasi. Selain itu, kami juga menyampaikan bahwa di akhir penugasan, kami ingin menghasilkan sebuah buku dokumenter catatan Tim Ekspedisi Patriot yang akan mencatat pengalaman kami dan merekam terkait apa saja tentang Klamono dari berbagai aspek termasuk budaya, profil kawasan, tradisi keagamaan, potensi alam, kehidupan masyarakatnya, sejarah, dan lain sebagainya.
Setelah pertemuan yang cukup panjang kami pun merasa lapar. Kemudian kami berhenti di sebuah warung yang sangat nyaman. Warung tersebut berada tepat di pinggir jalan dan bersebelahan dengan Sungat Klasafet. Cita rasa masakan di warung tersebut juga tidak asing dengan lidah kami. Bahkan kami menilai masakan opornya enak dan memuaskan.
Setelah makan, kami kembali ke masjid Klamono lagi untuk sholat Asar. Kami tidak bisa menunda sholat ini karena sepanjang jalan nanti dari Klamono sampai Aimas, tidak akan ada masjid. Memang tidak seperti di Jawa, ketika kita harus sholat dan ingin berhenti di masjid sewaktu-waktu, kita akan dengan mudah menemukan tempat ibadah tersebut. Tapi ketika di Klamono tidak semudah itu. Oleh karena itu, sebaiknya kami tidak menunda sholat agar tak terlewat.
Setelah sholat, di depan teras masjid kami menyapa dua anak perempuan yang sangat lucu. Kami bertanya namanya, sekolahnya, usianya. Saat itu, mereka sedang ngaji Al-Quran di masjid tersebut.
“Namaku Zahra, ini adikku Fatima.”
“Kelas berapa?"
“TK.”
“Di mana sekolahnya?
“Gereja.”
Di Klamono memang tidak tersedia berbagai pilihan lembaga pendidikan. Meskipun anak muslim, sekolah di gereja sepertinya bukan satu masalah. Lalu kami bermaksud bertanya di mana sekolah TK Gereja yang dimaksud dua anak kecil yang lucu tadi, lalu ia menunjuk bangunan gereja yang ada di samping masjid yang kami berada di sana. Sambil berlari, mereka berteriak.
“Oh, gerejaku!” Ucap mereka sambil berlari menuju arah gereja yang berjarak sekitar 500 meter dari masjid.
Bagi kami, ini adalah pengalaman dan fenomena menarik yang kami lihat. Di Klamono.
BERSAMBUNG.....


0 Comments