Seorang pemuda lokal asli Papua, namanya sebut saja Alua, berkeyakinan Kristen. Sialnya, ia pernah dipakaikan peci oleh teman-temannya dan melaksanakan Sholat Tarawih. Pernah juga menghadiri tahlilan. Itu ketika ia masih tinggal di Jawa.
“Apakah kamu umat Kristen yang taat?” tanya kami.
Dia hanya tersenyum dan membiarkan pertanyaan itu berlalu. Kami lantas tertawa keras ketika ia menyebut dirinya sebagai umat Kristen custom – orang kristen yang sesekali bisa menerima dirinya mengamalkan ajaran agama lain.
“Kalau masalah, maaf, Papua harus merdeka atau tetap bergabung dengan Indonesia, kamu ada di pihak mana?”
Suasana mendadak menjadi agak serius setelah sebelumnya tertawa-tawa. Posisi duduknya berubah lebih tegak. Sebelum menyampaikan pendapatnya soal masalah yang sensitif itu, ia tampak agak sedikit gelisah: membenahi cara duduknya dan juga posisi topi yang dipakainya meskipun tidak berubah posisi.
“Begini....” lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan pendapatnya. “Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keinginan orang Papua ingin merdeka.”
“Berarti kamu setuju jika Papua merdeka? Jujur!”
“Bukan begitu. Maksud saya, keinginan merdeka ini muncul karena ketidakadilan.”
“Maksudnya, apakah orang Papua merasa tidak adil dengan arah pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia? Seperti yang kamu lihat, pemerintah akan membuat Papua menjadi kawasan yang maju seperti Jakarta, ada bangunan-bangunan yang tinggi. Jalan-jalan yang lebar. Modern seperti kota-kota maju di Jawa. Apa memang konsep kemajuan di Papua tidak bisa disamakan dengan pembangunan di Jakarta?”
“Pembangunan di Papua harus selaras dengan alam. Menjaga hutan-hutannya karena itulah kehidupan rakyat Papua.”
“O, artinya kamu setuju dengan konsep pembangunan Papua jika dilakukan dengan yang sesuai dengan adat Papua?”
“Ya, itulah pembangunan di sini tidak bisa disamakan dengan di luar Papua. Pembangunan Indonesia custom yang sesuai dengan masyarakat sini.”
“Artinya kamu tetap ingin Papua menjadi bagian dari Republik Indonesia dengan custom tersebut, sama seperti kamu beragama Kristen tapi kamu custom dengan tradisi orang muslim?” kalimat terakhir kami sisipi candaan agar obrolan kembali bernuansa santa seperti sebelum membahas masalah ini.
Dia tertawa mengingat kembali bagaimana dulu ia bisa-bisanya ikut sholat tarawih dan tahlilan karena ikut teman-temannya yang muslim.
Alua adalah pemuda Papua asal Wamena. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia terpilih sebagai pelajar yang mendapat Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Itu adalah program bantuan pemerintah yang diberikan kepada lulusan peserta didik SMP/MTs sederajat yang berasal dari Orang Asli Papua (OAP), Daerah Khusus, dan Repatriasi untuk melanjutkan pendidikan menengah SMA/SMK di Pulau Jawa dan Bali.
“Emang motivasimu apa mengikuti program itu?”
“Saya ditunjuk kepala sekolah. Lalu berangkat. Saat itu kami tak tahu apa yang saya inginkan dengan program itu.”
“Jadi kamu berangkat saja?”
“Iya.”
Akhirnya ia terdampar di Kota Malang, Jawa Timur dan akhirnya belajar di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di sana.
“Hampir seminggu saya menangis di sana. Sendirian. Merasa aneh.”
“Apa yang membuatmu menangis?”
“Berada di antara anak-anak berkulit putih, makanan yang aneh, apalagi ketika di sana harus naik eskalator. Itu membuat saya menangis.”
Kami tidak menunjukkan raut sedih ketika mendengar cerita itu. Justru kami tertawa, dan dia juga ikut tertawa.
“Lalu prestasimu di sekolah bagaimana?”
“Merah. Khususnya di mata pelajaran Bahasa Jawa.”
“Kamu anak Papua disuruh belajar Bahasa Jawa?”
“Begitulah....”
Kami tertawa lagi.
“Pernah tinggal kelas?”
“Kalau itu tidak pernah. Semua lancar.”
“Lalu kamu bisa masuk ke salah satu universitas terbaik di Malang, bagaimana ceritanya?”
“Itu aneh. Saya pilih Jusuran Pariwisata yang kedua saya pilih Teknik Informatika. Tapi malah diterima di Jurusan Pertanian.”
“Hahaha. Jalur apa kok bisa begitu?”
“Afirmasi.”
“Apa kuliahmu lancar?”
“Sembilan semester baru lulus.”
“Lhaaaa.....!”
“Masih mending saya lulus. Biasanya dari 10 anak Papua yang kuliah di kampus ini, hanya satu yang bisa lulus.”
“Luar biasa!” puji kami kepadanya.
Ketika menjadi mahasiswa, Alua pernah menjadi seorang presiden perhimpunan anak-anak Papua yang kuliah di Malang. Artinya, ia cukup aktif di bidang organisasi.
Selain itu, kesibukannya juga mendampingi para petani kopi yang ada di Malang. Meskipun ia sendiri mengakui kurang punya prestasi di bidang akademik, namun yang kami dengar anak ini memiliki keuletan yang bagus dalam bekerja.
Ketika ada program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang diselenggarakan oleh Kementerian Transmigrasi, ia memutuskan untuk mengikuti progam ini. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 2017 lalu, ia sama sekali belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Papua. Dan setelah program TEP ini selesai, ia mengaku ingin kembali ke tanah kelahirannya.
“Apa rumahmu dari Sorong ini masih jauh?”
“Masih harus naik pesawat lagi. Setelah itu, masih harus melalui jalur darat yang tidak kalah melelahkannya.”
“Mungkin orang tuamu sudah tidak mengenalmu lagi?”
“Bisa jadi. Bahkan teman-temanku seangkatan kabarnya sudah banyak yang menikah.”
“Tapi kamu punya pacar?”
“Punya.”
“Bagaimana kamu memandang wanita cantik?”
“Yang penting membuat nyaman.”
“Maksud saya, secara fisik saja, bagaimana cara kamu melihat wanita cantik?”
“Yang penting membuat nyaman.”
“Maksud saya, secara tampilan fisik saja, jika anak anak kulit hitam berambut keriting asli Papua dan ada perempuan kulit putih berambut non-Papua, mana yang kamu pilih?”
“Yang penting bisa menerima saya.”
“Maksud saya, kamu sudah hidup di Jawa cukup lama, apakah cara memandang wanita canti berbeda?”
“Yang penting bisa mengerti saya.”
“Ah, sudah lah!”
Lalu kami beralih ke pembahasan lain.
Saat itu, obrolan kami berlangsung hingga larut malam. Ketika datang ia membawa biji kopi Arabica dan grinder (alat penggiling kopi). Ia menggilingkan kopi untuk kami dan menikmatinya bersama.
Ketika waktu sudah lewat tengah malam, ia hendak pamit meninggalkan rumah kontrakan kami. Sebelum itu, ia menggiling kopi dari biji kopi yang ia bawa. Ia melakukan itu agar bisa menikmati kopi yang ia bawa, yang katanya dari hasil petani kopi yang ia dampingi di Jawa.
Sebelum kebersamaan malam itu benar-benar berakhir, kami menyempatkan bertanya kepadanya tentang masa depannya.
“Lalu apa rencanamu setelah mengikuti Ekspedisi Patriot ini?”
“Saya akan pulang dan mungkin akan menjadi petani di kampung halaman.”
“Mulia sekali.”
“Jangan lupa panggil kami ketika kamu menjadi orang sukses di Papua.”
“Tentu.”
“Alua sang Sarjana. Mungkin di masa depan, siapa tahu, kamu akan menjadi pemimpin yang berpengaruh di Papua. Tapi ngomong-ngomong, siapa tokoh idolamu dari orang Papua sendiri.”
“Tidak ada.”
“Mungkin Natalius Pigai.”
“Itu orang eror.”
“Kamu lebih baik darinya?”
“Mungkin.
Alua akhirnya berpamitan. Kami antar sampai depan rumah mengiringinya pulang. Ia adalah teman yang asyik dan tingkahnya kadang lucu.
Alua sang Sarjana, kami sangat senang mengenal dirimu. Banyak anak-anak muda Papua yang terjerumus dalam kebiasaan mabuk yang berlebihan sehingga masa depannya kadang tak karuan. Tapi Alua, ia adalah salah satu pemuda Papua menjunjung tinggi pendidikan. Dan ia selalu ingin memberi kemanfaatan untuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
01 Oktober 2026

0 Comments