Bude Lele dan Para Perantau (VII)

Jika Ibu Aminah ingin tinggal di Papua selamanya, itu berbeda dengan Bude Lele. Akhir tahun ini, ia berencana akan meninggalkan Papua selamanya untuk kembali ke kampung halamannya di Situbondo. 


Bude Lele pertama kali menginjakkan kakinya di Papua 13 tahun silam. Waktu itu, ia ikut dengan salah satu keluarganya yang sudah kerja lebih dulu di Papua. Keluarganya tersebut ialah seorang tukang bangunan dengan upah 60 ribu per hari.


Sementara Bude Lele tentu saja bukan seorang  tukang, ia hanya bisa bekerja sebagai buruh di sebuah proyek dengan gaji 1 juta per bulan. Pada tahun 2013, bayaran segitu sudah cukup membuatnya senang daripada menjadi pembantu rumah tangga di kampungnya sendiri yang hanya mendapat upah 200 ribu per bulan.  Itulah yang pada akhirnya membuatnya memutuskan ikut salah satu keluarganya—ia menyebutnya Pakde—pergi ke Papua. Meskipun menjadi kuli bangunan dan dia adalah perempuan, itu tidak masalah baginya.


Bude Lele masih ingat proyek pertama yang ia kerjakan. Ia menyebut sebuah proyek pembangunan fasilitas tempat tinggal untuk para pekerja PT. Pertamina di Klamono, di antaranya adalah membuat penampungan air. Meskipun hanya menjadi seorang buruh proyek, asal itu berkaitan dengan nama PT. Pertamina, sudah terdengar amat bergengsi di telinga orang-orang di kampungnya. 


Kurang lebih selama satu tahun ia melakukan pekerjaan itu; pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh para pria,  mengangkat pasir, semen, koral, dan material bangunan lainnya. 


Sambil bekerja sebagai buruh kasar, pada suatu ketika ia punya inisiatif berjualan makanan dalam kompleks proyek tersebut. Mula-mula ia jualan pisang goreng dan minuman. Kemudian, berkembang jualan lele goreng. Karena itulah, orang-orang di Klamono lebih sering memanggilnya dengan sebutan ‘Bude Lele’. 


Lambat laun usahanya tumbuh. Ia bisa menyewa sebuah tempat di lantai dua rumah panggung di pusat keramaian Klamono yang ditempati sekarang. Hanya saja sekarang ia sudah tidak jualan lele lagi, melainkan aneka minuman dan makanan dengan berbagai menu yang hampir selalu berubah setiap hari.


Lokasi warung Bude Lele sangat nyaman dan luas, seperti yang sudah pernah kami ceritakan sebelumnya. Untuk masuk ke pelataran warung harus naik tangga dari samping. Selain itu, juga bisa melalui sejenis jembatan kecil yang menghubungkan antara jalan raya dengan pelataran warung tersebut, karena posisi dasar bangunan ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan posisi jalan raya di depannya.  


Dr. Panji Deoranto bersama dengan Moh Wahyudi (Presiden Direktur Holding Koperasi BMT NU Ngasem Group) sedang berada di Warung Bude Lele setelah kegiatan pelatihan terkait perkoperasian di Kawasan Transmigrasi Distrik Klamono.  


Setiap kali kami datang dan memarkir mobil di samping warungnya, Bude Lele selalu tampak antusias menyambut kami. Selain karena kami sudah saling kenal dan beberapa kali pernah berkunjung ke tempat tersebut, dalam tim kami juga ada anak Madura. Itu salah satu faktor yang membuat kami mudah akrab. 


Seperti hari itu, ketika kami baru saja turun dari mobil, Bude Lele langsung melambai-lambaikan tangannya. Ia tahu siapa yang datang. Ketika kami keluar mobil dan menaiki tangga dari samping menuju pelataran warung di lantai dua yang luas itu, ia langsung berdiri di depan dan menyambut. Kami bersalam-salaman dan kami senang melempar candaan dengan menirukan bahasa mereka. Gelak tawa pun seringkali pecah karena kesalahan-kesalahan bahasa yang kami lakukan.  


Hari itu kami tidak pesan makanan, hanya pesan minuman sambil menghabiskan waktu untuk bertemu seseorang. Kami duduk saling berhadapan memutari meja panjang. Di ujung, Bude Lele ikut duduk bersama kami setelah mengambil kursi plastik yang ia geser dari meja sebelah.


Pada saat itulah ia bercerita bahwa pada akhir tahun ini akan pulang ke kampung halamannya. Selamanya. Tidak akan kembali lagi. Menurutnya, akan lebih baik jika ia bisa menghabiskan masa tua di tempat di mana ia dilahirkan. Ia tidak mau mati di tanah orang, seperti yang dialami orang Madura lain baru-baru ini. Ada orang Madura baru pulang dari haji, tak lama setelah itu lalu mati. Kemudian dikuburkan di tanah Papua. Bude Lele tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada dirinya, mati di Papua dan tidak ada anak cucu yang menziarahi kuburannya.  


Untuk rencana kepulangan, Bude Lele sudah mempersiapkan berbagai hal. Ia punya anak satu, pria dan sudah menikah. Punya cucu satu.  


“Lalu apa yang akan Bude lakukan besok di rumah?” 


“Di rumah ada toko kelontong. Saya punya satu cucu, sudah besar dan sedang mondok di pesantren Situbondo,”  ia tampak bangga ketika mengatakan hal itu, dan menyebut cucunya belajar kepada kiai besar. 


Itulah kira-kira masa depannya setelah meninggalkan Papua.  


Warung yang ditempati saat ini kontraknya akan habis akhir tahun. Perabotan-perabotan yang ada di warung saat ini, katanya, akan ditinggal.  


“Emang gak rugi, Bude?”


“Daripada pulang bawa banyak barang,” jawabnya. 


“Wah, berarti Bude orang kaya, ya?” 


“Orang biasa.” 


"Orang Madura biasanya perhiasan emasnya banyak dan besar-besar. Mungkin Bude juga punya yang kayak gitu?” canda kami. 


“Enjek...” balasnsya dengan nada yang ditekan dengan logat khas Madura. 


Ia segera membuktikan bahwa gelang yang ia pakai di tangan bukan emas melainkan gelang kayu mirip tasbih. Itupun pemberian orang yang baru pulang haji yang baru saja mati. Giliran menunjukkan tangan kanannya, ia mengucapkan hal yang sama. Keduanya hanya beda warna saja.  


“Mungkin Bude simpan, tidak dipakai.” 


Ia tak menanggapi ketika kami mengatakan kalimat terakhir itu. Kemudian kami melanjutkan obrolan banyak hal tentang Madura. Ketika menyinggung soal Madura, Bude Lele selalu bersemangat dan itu menunjukkan bahwa ia sangat rindu dengan asalnya. 


Bude Lele berbeda dengan Ibu Aminah. Bude Lele adalah perantau seperti umumnya orang Madura yang suka merantau ke berbagai wilayah. Ketika tiba di Papua, tidak ada fasilitas negara yang disediakan seperti yang diberikan kepada Bu Aminah puluhan tahun silam sebagai peserta transmigransi umum dari pemerintah. Segala kepindahan Bude Lele ke Papua merupakan inisiatifnya sendiri, tanpa kepastian apapun, hanya berbekal harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 


Bude Lele tidak bisa dikatakan gagal di perantauan. Namun juga tak bisa dikatakan sukses seperti Ibu Aminah yang punya warung dengan karyawan beberapa orang, punya tempat sendiri, dan berlokasi di keramaian Aimas.  Sementara Bude Lele bertempat di Klamono yang tidak setiap hari ramai pembeli, tempat masih sewa, dan hampir segalanya dilakukan sendiri. 


Bude Lele sebenarnya juga punya satu pembantu. Pembantu tersebut adalah keponakan sendiri yang ia ajak dari Situbondo. 


Si Keponakan ini tampaknya kurang beruntung. Bagaimana tidak, ia baru saja kerja ikut Bude Lele dan belum genap satu tahun. Tapi Bude Lele justru akan kembali ke kampung meninggalkan Papua selamanya. Otomatis, Si Keponakan harus segera membuat keputusan yang membingungkan antara ikut Bude Lele kembali ke Jawa atau ambil jalan lain melanjutkan hidup di Papua. 


Si Keponakan ini lebih muda dibanding Bude Lele, meskipun tidak terpaut usia terlalu jauh. Ia sangat pendiam. Wajahnya selalu tampak murung. Dari awal hingga akhir kami bicara dengan Bude Lele, ia hanya diam dan menyimak obrolan kami. 


Ia duduk terpisah dari meja kami, tapi masih cukup dekat jaraknya dengan kami. Ia tak pernah bertanya atau mengatakan sesuatu apapun. Kalaupun bereaksi, hanya dengan senyum tipis. Itu ketika ada candaan kami yang keterlaluan lucu.


Sesekali kami mencuri pandang ke arah matanya yang kosong. Kami membayangkan menjadi dirinya yang tengah dihantui oleh pikiran-pikiran tentang masa depan yang misteri. Tentang kembali pulang bersama Bude Lele untuk menjalani hidup dengan upah murah, atau bahkan tidak ada pekerjaan sama sekali. Atau, tetap melanjutkan hidup di Papua dengan berbagai ujiannya sendiri.


Apa yang kira-kira dipikirkan oleh Si Keponakan itu sebenarnya juga kami alami sendiri.  Setelah empat bulan sebagai Tim Ekspedisi Patriot ini, apa yang akan kami lakukan selanjutnya agar hidup tetap bisa memberi kisah yang baik?  


Terlepas dari itu semua, “Keso’on” karena Tuhan telah memberikan kesempatan ini. Sehingga kami bisa merasakan hidup di Papua dan pengalamannya. 


“Keso’on” artinya terima kasih, biasa diucapkan oleh orang Madura yang tinggalnya di luar Pulau Madura. Kata itu pula yang sering kami sampaikan kepada Bude Lele ketika kami mulai meninggalkan pelataran warung dengan lantai kayu berwarna kecokelatan itu. 


13 Agustus 2026. 


Bersambung.....

0 Comments