Cerita dari Tetua Adat (XIV)

Ketika kami masuk ke ruang kerja Kepala Distrik Klamono, empat tetua adat di Klamono sudah duduk di kursi sofa. Di depan mereka, rekan Tim Ekspedisi Patriot dari kelompok lain tengah khusyuk mendengarkan apa yang mereka sampaikan. Kami langsung mengambil duduk di kursi plastik yang tersedia di dalam kantor tersebut, duduk berjejer dengan rekan Patriot yang sudah lebih dulu datang ke sana. 


Kami langsung ikut mendengarkan obrolan yang tengah berlangsung. Tampaknya sudah banyak yang mereka bicarakan. Meskipun tidak mengikuti obrolan dari awal, kami dapat menangkap bahwa perbincangan mereka tengah membahas sejarah Klamono, tradisi-tradisi masyarakat yang ada kawasan tersebut, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kebudayaannya. 


Fokus pendampingan Tim Ekspedisi Patriot yang menggelar pertemuan tersebut memang terkait kebudayaan dan pariwisata berdasarkan kearifan lokal. 


Sebelum pertemuan ini berlangsung, kami sudah dikabari agar bisa menggali informasi untuk materi buku yang akan kami susun.  Dan kami menganggap pertemuan ini penting untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal baru yang mungkin belum pernah kami dengar dari sumber yang sudah kami gali. 


“Kla... itu artinya sungai atau kawasan yang berkaitan dengan air. Itu bahasa Moi,” ucap salah satu tokoh penting Klamono yang pernah kami tanyai terkait asal-usul nama Klamono. 


“Mono.... artinya sunyi atau sepi. Kla-mono berarti, sungai yang sunyi,” sambungnya. 


“Kla hampir sama dengan kata ‘Ci’ di pulau Jawa. Di sana ada Ciamis, Cirebon, Cimahi, Cianjur, Cibinong, dan seterusnya. Ci artinya juga air atau sungai. Kalau di sini Kla.” 


“O, makanya di sini banyak nama kampung berawalan ‘Kla’. Kalau Klasafet artinya apa?” tanya kami. 


“Safet artinya udang.” 


“Berarti sungai yang banyak udangnya?” 


“Nah!” ucapnya membenarkan jawaban kami. 


Di sini juga banyak nama tempat dengan awalan ‘Mla’, yang artinya hutan. Contoh, Mlasmily, Mlais, dan seterusnya. Kami kurang tahu bagaimana ejaan yang benar, apakah menggunakan ‘Mla’ atau ‘Mala’. Sebab beberapa kampung ditulis dengan Malasmily, Malawili, Malagusa, dan seterusnya. Dugaan kami yang tepat pakai kata ‘Mla’, dan itu sudah kami konfirmasi ke teman Patriot yang fokus risetnya terkait bahasa Moi. 


Suku yang mendiami kawasan Sorong dan sekitarnya adalah suku Moi. Jauh sebelum hari ini, berdasarkan sejumlah sumber yang kami catat, kehidupan mereka bergantung pada bercocok tanam, berburu, dan mengolah hasil hutan. Mereka banyak yang tinggal di bantaran sungai, danau, hingga tepi laut. Merekalah orang-orang pertama yang mendiami kawasan di seputaran Sorong di masa lampau. 


Kehidupan mereka adem ayem sesuai tradisi leluhur, setidaknya hingga memasuki tahun 1928. Meskipun sebagai jajahan Belanda, pulau Papua nyaris tak tersentuh. Alasannya, karena kondisi alam Papua yang pekat oleh hutan dan sulit ditembus. Pulau Papua tidak pernah dipetakan sebelumnya. Kalaupun ada hanya berupa peta topografi untuk kepentingan militer. Pada tahun 1928, Shell Oil Co sempat mencoba mengeksplorasi bagian kepala burung tapi tak dilanjutkan. 


Kemudian proses eksplorasi dilanjutkan ketika perusahaan minyak Belanda, The Nederlandsche Nieuw-Guinee Petroleum Maatschappij (NNGPM) menerima hak pengusahaan hutan seluas 100.000 kilometer persegi di Sorong. Mereka mulai mengeksplorasi minyak di wilayah Papua pada tahun 1935. Papua merupakan pulau terakhir di nusantara yang dieksplorasi oleh Belanda.


Usaha yang dilakukan tersebut tidak mudah dan disebut sebagai ‘pekerjaan raksasa’ karena harus melakukan pemetaan geologi dan menyiapkan infrastruktur besar-besaran untuk mendukung proses eksplorasi tersebut. Pemetaan dilakukan oleh kru yang bekerja dari atas perahu. Cara itu dinilai lebih aman daripada harus tinggal di tengah hutan. Setelah proses itu selesai, NNGPM melakukan tes pengeboran pertama kalinya di Klamono pada tahun 1936. Meski demikian, lapangan pengeboran di Klamono baru bisa produksi pada tahun 1948 dengan menghasilkan minyak sekitar 4.000 barel per hari. 


Meskipun Indonesia sudah merdeka, perusahaan tersebut masih melanjutkan aktivitas produksinya hingga tahun 1960. Kemudian pada tahun 1964, lapangan pengeboran minyak di Klamono dikelola oleh Pertamina yang ketika itu masih bernama Permina. 


Pada tahun 2014, lapangan minyak di Klamono tercatat memiliki 206 sumur, namun hanya 133 yang bisa produksi. Hingga saat ini, sumur-sumur tersebut masih menghasilkan minyak meskipun tidak banyak. 


“Mungkin tahun 1960-1970 telah mencapai puncak produksi dan sekarang sudah menurun, namun masih ada potensi yang bisa kita angkat,” mengutip ucapan Papua Petroleum Engineering Assistant Manager dari buku Mereka yang Berpeluh: Kisah Para Pekerja Lapangan Minyak (2015). 


Sumur minyak di lapangan Klamono ini tergolong unik. Dari semua sumur yang produksi, kandungan minyaknya hanya satu persen. Selebihnya air. Misal sumur-sumur di Klamono dikatakan bisa menghasilkan 100.000 barel cairan tiap hari, minyak yang dihasilkan sebenarnya cuma 1.000 barel. 


Meski demikian, kehadiran Pertamina ini yang membuat Klamono berkembang sedemikian rupa. Banyak pendatang dari luar Papua datang ke sini sebagai pekerja. Masyarakat lokal juga sebagian bekerja di perusahaan milik negara tersebut. 


Terkait kedatangan orang-orang dari luar Papua yang datang sebagai pekerja di Pertamina selaras dengan yang diceritakan oleh Pak Subandi yang saat ini menjadi orang yang cukup mapan dan berpengaruh di Klamono. Ia datang dari Cirebon. Ia masih bujang ketika datang ke Klamono pada tahun 1978 dan bekerja di Pertamina sebagai security. Sebelum ia datang, salah satu keluarganya sudah ada yang lebih dulu bekerja di sana. 


Setelah dua tahun bekerja sebagai Satpam Pertamina, ia menikah dengan perempuan asal Bogor yang kemudian dibawanya ke Klamono. Hingga akhirnya ia hidup berdua di kampung pemukiman yang disediakan oleh Pertamina.


Pada suatu ketika, Pertamina mengubah skema pekerjaan di bidang keamanan (security) sesuai arahan dari pemerintah bahwa perusahaan besar dilarang menggunakan outsourcing (pihak ketiga) dalam mengangkat pekerja. Sehingga Pak Subandi ketika itu bekerja langsung di bawah manajemen Pertamina. Ia mendapat upah yang sangat layak karena itu. 


Pada tahun 2005, outsourcing kembali diberlakukan yang akhirnya membuat Subandi kecewa dan akhirnya memutuskan keluar dari perusahaan tersebut. Beruntung sekali, ia pintar mengelola keuangan selama bekerja di Pertamina. Setiap hasil jerih payah yang didapatkan selalu digunakan untuk membangun sesuatu atau membeli aset seperti tanah, mendirikan bangunan, dan sejenisnya. 


“Saya memang orang yang suka bangun-bangun,” ucap Pak Subandi ketika kami tanya soal sejarah asetnya yang cukup melimpah di Klamono. 


Di hari tuanya saat ini, ia tetap punya banyak kesibukan. Mulai pagi hingga sore, ia mengurus kebun, kolam, kandang ternak, dan usaha lainnya. Ia bahkan punya lahan yang cukup luas dan sebagian ia biarkan digunakan oleh masyarakat sekitar dengan kesepakatan-kesepakatan tertentu. Ia juga sempat menjadi Kepala Kampung Posa. Mungkin karena kemanfaatannya dan juga kontribusi yang telah diberikan kepada orang-orang di sekitarnya. 


Kembali lagi ke kisah kami bersama empat tetua adat yang hadir di ruang kantor Pak Okto, kami juga mendapat informasi banyak tentang tradisi-tradisi yang ada di Klamono secara umum, tentang tanaman lokal yang bisa dimanfaatkan untuk obat, tentang tradisi tari, tentang cerita rakyat yang diyakini oleh masyarakat setempat. 


Dalam pertemuan itu, kami hanya menyampaikan satu pertanyaan. Kami ingin tahu pandangan mereka tentang rencana pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Sebab pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah, mengingat Klamono adalah kawasan transmigrasi prioritas, pastinya akan menimbulkan paradoks yang sangat sulit dihindari. Misalnya, ketika pemerintah akan membangun Klamono sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, maka di sisi lain juga berpotensi merusak hutan, menggerus tradisi yang dijaga sejak lama. Kejadian seperti ini sudah terbukti terjadi di kawasan lain yang tersentuh oleh pembangunan ala era modern. 


Perlu diketahui bahwa perkembangan kawasan Sorong tidak lepas dari proses transmigrasi. Dimulai dari Sorong, kemudian mengarah ke Aimas yang dibuka sebagai kawasan transmigrasi pada tahun 1980-an. Lalu pada tahun 1997 kawasan transmigrasi juga dibuka di Klamono dan Segun. Ketika Aimas dan Sorong sudah berkembang sedemikian rupa, bertransformasi menjadi kota yang terus tumbuh seperti yang telah kami ceritakan sebelumnya, maka transformasi itu akan beralih di Klamono. 


“Kami sangat terbuka dengan pembangunan Klamono. Tapi harus ketuk pintu. Kami warga siap diajak musyawarah,” kata salah satu di antara empat tetua adat yang hadir saat itu. 


“Ada istilah Papua bukan tanah kosong. Setiap pembangunan yang direncanakan oleh pemerintah harus ada sosialisasi seperti yang kami lakukan di berbagai tempat,” ucap Pak Okto sebagai Kepala Distrik yang juga hadir dalam pertemuan tersebut. 


Percakapan di ruang itu cukup lama, dimulai dari pukul dua siang dan selesai sekitar jam empat sore. Kami sengaja tidak banyak bertanya karena kami tidak mau mengganggu fokus tim di bidang kebudayaan yang menggelar acara ini. 


Setelah bubar dan meninggalkan ruangan tersebut, kami berhenti sejenak di depan kantor distrik sebelum benar-benar meninggalkan lokasi. Kami bicara singkat dengan salah satu tetua adat yang hadir di ruangan, dan ia mengaku juga merupakan pensiunan Pertamina. Ia bukan orang asli Papua, ia mengaku campuran antara India, Jawa, Sumatera. Setelah kami perhatikan dengan seksama, memang ada aura India di wajahnya. Sekilas, ia sangat mirip dengan B.J Habibie termasuk gaya bicaranya.



02 September 2026. BERSAMBUNG....

 

 


0 Comments