Harapan dan Kekecewaan (XII)

Mungkin ada ratusan orang, mereka berkumpul di seputaran bangunan yang tampak seperti rumah pada umumnya. Bangunan itu tidak tertutup dinding sepenuhnya, namun hanya setengah badan. Dan bangunan itu kabarnya sering digunakan sebagai tempat ibadah bagi masyarakat setempat, sebagai gereja.


Beberapa kursi sudah ditata sedemikian rupa di dalam dan di luar ruangan. Sedangkan di luar bangunan dibuatkan terop dari terpal yang ditali pada tiap ujung pojoknya kemudian dikaitkan pada pohon atau tiang-tiang yang ada di sekitarnya. 



Sepertinya ini memang acara yang sangat spesial. Anak-anak sekolah sejak pagi sudah dandan dan melukisi wajah, tangan, dan kaki dengan motif-motif tertentu.  Mereka akan menjadi penari Papua dan tengah bersiap memberikan penampilan terbaik di hadapan hadirin yang mulia. Mereka duduk di bawah terop khusus di luar bangunan yang terpisah dari tempat berkumpulnya para tamu.


Ketika tamu kehormatan nanti datang, biasanya mereka akan segera tampil untuk memberikan sambutan.  Dan kabarnya yang akan datang dalam acara ini adalah Gubernur Papua Barat Daya dan mungkin juga sebagian pejabat penting yang ada di bawah komandonya.


Ketika acara akan segera dimulai, sekelompok penabuh alat musik Tifa berjalan beriringan dari arah jauh di ujung jalan. Mereka menapaki jalan yang menurun menuju lokasi di mana orang-orang tengah berkumpul. Sambil menabuh alat musik yang hampir mirip dengan kendang Jawa tersebut, mereka berjalan sambil menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan. Lalu bersama dengan irama suara Tifa, terdengar ‘rintihan’ seruling yang ditiup dari ujung lobangnya secara vertikal.


Kelompok penabuh kemudian berhenti di pintu masuk acara.  Lalu beberapa orang perwakilan mengalungkan sebuah kain kepada para pejabat yang baru saja hadir. Salah satu yang mendapat penghormatan ini adalah Kepala Distrik Klamono dan sejumlah perwakilan dari pemerintah Kabupaten Sorong. Kami tidak melihat ada gubernur di sana, yang disebut-sebut akan datang. 



Kami dan sejumlah rekan Patriot duduk di bawah terop terpal, tepat di depan bangunan. Sebenarnya kami belum betul-betul paham maksud utama dari acara ini kecuali informasi yang tertulis di undangan bahwa acara ini adalah mempertemukan “Perwakilan 11 Dusun Persiapan”. Hingga akhirnya kami mendengar seseorang di dalam ruangan menyampaikan kata-kata. 


“Kami sudah memperjuangkan ini sejak tahun 2014, tapi sampai saat ini belum terwujud,” kata seseorang yang menjadi salah satu perwakilan dusun. 


“Kami punya tanah, warga kami ada yang dari Jawa, Bugis, Ambon, dan lain sebagainya. Pembangunan dan bantuan tidak pernah sampai kepada kami,” kata seseorang lainnya. 


“Hasil panen yang kami dapatkan seringkali busuk karena tidak ada jalan untuk memasarkannya,” ucap yang lain lagi. 


Tepat di depan kami, duduk seorang pria yang sudah cukup tua, rambutnya sudah memutih dan pakai topi. Meski di luar ruangan, ia tampak menyimak dengan khusyu’ sepanjang acara 


"Permisi, Pak,” sela kami memecah fokusnya dan ia menoleh ke arah kami. “Apakah maksudnya dari 11 dusun ini ingin membentuk sebuah kampung baru, begitu?” tanya kami kepada pria tua itu. 


“Ya,” jawabnya singkat.  


Di tengah suara yang riuh dari dalam ruangan, ia menjelaskan beberapa hal dengan suara yang lirih. Kami tidak bisa mendengar dengan jelas. Kami hanya manggut-manggut seolah paham pada setiap kata yang ia ucapkan. Dan akhirnya, pria itu menghentikan penjelasannya setelah beberapa saat kemudian.


Kami kembali mendengarkan apa yang dikatakan oleh para perwakilan yang ada dalam ruangan dari masing-masing dusun. Intinya mereka ingin cita-cita membentuk kampung baru segera terwujud. 


Setelah itu, giliran para pejabat yang saling memberikan tanggapan atas ungkapan yang disampaikan. Jawaban yang disampaikan oleh para pejabat dari pihak perwakilan Kabupaten Sorong bahkan Provinsi Papua Barat Daya sepertinya belum memuaskan.  


“Moratorium untuk melakukan pemekaran belum dibuka sampai saat ini setelah terakhir dilakukan beberapa tahun lalu. Jadi intinya, untuk mewujudkan ini harus sabar menunggu. Tapi yang pasti, kami akan tampung aspirasi ini dan akan kami sampaikan kepada atasan,” demikian jawaban yang mereka dapatkan. 


Artinya, mereka belum mendapatkan kepastian pada hari itu, diminta sabar untuk menunggu. Berapa lama menunggu, itu soal lain lagi. 


Pembawa acara kemudian meminta semua hadirin berdiri dan bersama-sama menyanyikan sebuah lagu. Ketika suara musik diputar melalui speaker, mereka menyanyikannya bersama dengan sepenuh hati, sehingga kami yang mendengarkan bisa merasakan betapa emosional dan sentimentilnya suasana di dalam ruangan itu. 


Di sana pulauku

Yang kupuja selalu

Tanah Papua pulau indah

Hutan dan lautmu

Yang membisu selalu

Cendrawasih burung emas

 

Gunung-gunung, lembah-lembah

Yang penuh misteri

Kan ku puja selalu

Keindahan alammu yang mempesona

Sungaimu yang deras mengalirkan emas

Syo.. Ya Tuhan..Terima kasih

 

Dan setelah lagu itu, acara ditutup oleh doa seorang pendeta.  Dilanjutkan makan bersama. 


Ketika sebagian hadirin menyantap hidangan yang sudah disiapkan, perhatian kami beralih pada kelompok anak-anak dan remaja yang mengenakan baju adat Papua, memakai rok rumbai dengan atasan kaos hitam. Sejak awal, mereka belum tampil sama sekali. Bahkan ketika tamu kehormatan datang, mereka juga tak ditampilkan. Nah, di akhir acara ini, mereka baru mulai bergerak. 


Kami mendekat dan membuat lingkaran besar. Sementara itu, para penari berada di tengah-tengah kami, menunjukkan keterampilan mereka dalam menari.  Di atas tanah yang kering dan berbatu, mereka berlutut. Lalu berdiri, berputar, kadang melambai-lambaikan tangannya. Debu-debu mengotori kaki dan pakaian yang mereka kenakan selama pertunjukan itu.  





Tiba-tiba seorang perempuan dari tengah kerumunan berkata-kata keras, matanya berkaca-kaca, menumpahkan kemarahannya.  


“Hampir empat bulan kami menyiapkan ini! Ayo, masyarakat seperti kita saja yang melihatnya. Masyarakat ini saja. Kita saja yang melihat,” ucap perempuan itu. 


Dari setiap kata yang ia ucapkan, ia sepertinya kecewa karena pertunjukan anak-anak yang sudah disiapkannya sedemikian rupa tidak mendapatkan apresiasi sebagaimana mestinya. Para tamu kehormatan yang diharapkan datang, yang seharusnya melihat kelincahan anak-anak ini, justru tidak datang. 


Sementara itu, kelompok penari yang tampil di hadapan kami makin percaya diri. Setelah satu kelompok selesai, digantikan dengan kelompok lainnya. Tiba-tiba suasana berubah menjadi ala “Eropa” ketika tiga remaja pria masuk ke tengah kerumunan. Alunan musik beat berdentum dan mereka bergoyang jauh dari tradisi tarian Papua seluruhnya. Kali ini dance Hip-Hop dengan gerak-gerik 100 kali lebih enerjik dibanding kelompok sebelumnya. Mereka sukses menyita perhatian para penonton.


Ketika para penabuh Tifa kembali beraksi dan berjalan dari lokasi acara menuju dataran yang lebih tinggi di atas sana, para dancer sudah berhenti bermain. Satu per satu, orang-orang mulai meninggalkan tempat tersebut. 


Sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, kami melihat lagi ke arah belakang dari ujung jalan yang lebih tinggi daripada lokasi pertemuan. Tempat itu kembali sepi. Sepanjang lorong jalan yang menjorok turun tersebut hanya ada beberapa bangunan rumah saja. Sejauh mata memandang yang terlihat lebih dominan adalah pepohonan dan hutan yang ada di ujung berselimut kabut.



31 Agustus 2026. BERSAMBUNG....


0 Comments