Setelah melalui beberapa pekan di kawasan transmigrasi, tinggal bersama dalam satu rumah, mengerjakan program bersama-sama, dalam beberapa tim mulai muncul pertengkaran yang membuat tidak nyaman. Kami mendengar itu terjadi di tim lain.
Konflik dalam suatu kelompok sebenarnya merupakan hal yang wajar karena melibatkan banyak pikiran dan emosi dari masing-masing anggota. Bukan hal yang aneh jika kemudian muncul ketidakcocokan satu sama lain. Konflik itu kemudian bisa berlanjut atau segera menemukan jalan keluar, tergantung bagaimana satu sama lain merespon masalah tersebut.
Jika konflik sudah terlanjur terjadi tentu akan menguras pikiran dan membuat mental lelah. Kami bahkan mendengar seseorang sampai mengalami tekanan batin cukup serius dan harus konsultasi dengan psikolog karena masalah tersebut.
Kami tidak ingin masalah seperti itu terjadi pada tim kami. Sudah kami wanti-wanti, bahkan dalam komunikasi sebelum keberangkatan, yang paling penting dalam tim ini adalah kerukunan. Sebaik apapun rencana yang akan kami lakukan jika sudah terjadi konflik, maka semua program itu tidak akan berarti apa-apa. Yang kedua, bagaimana dalam tim ini bisa menjaga kesehatan dan keselamatan selama di lapangan. Dua hal itu adalah modal paling mendasar.
Kami harus bisa mengalahkan ego masing-masing jika terjadi ketegangan. Yang paling penting bukan bagaimana agar pendapat kita yang menang, tapi bagaimana agar kami tetap bisa berjalan bersama. Itu adalah prinsip yang kami jaga selama kami bersama.
Selain masalah konflik yang mengancam performa tim dalam menjalankan tugas adalah masalah kejenuhan. Kami bisa sangat berapi-api di awal, namun setelah beberapa waktu kemudian bisa mengalami kebosanan. Nah, masalah kejenuhan ini bisa menghampiri siapa saja, meskipun di dalam tim tidak terjadi konflik sama sekali.
Kebetulan sekali, kami menemukan cara yang efisien mengusir kejenuhan berdasarkan sebuah film dokumenter. Film itu berjudul “Earthing”, menceritakan penemuan manfaat grounding atau earthing; berjalan tanpa menggunakan alas kaki di atas tanah. Cara itu diklaim dapat menyembuhkan kejenuhan, stres, bahkan bisa mengatasi berbagai masalah fisik, termasuk menyembuhkan penyakit berat tertentu.
Argumennya sangat masuk akal, karena di dalam tubuh kita serupa kumpulan jaringan listrik. Jika kelebihan arus harus dinetralkan melalui teknik grounding. Cara kerjanya mirip dengan aliran listrik pada umumnya yang dipasang di rumah-rumah. Jika kita menginginkan tegangan listrik di rumah kita selalu stabil perlu dilakukan grounding agar alat-alat elektronik tidak cepat rusak sebab sering menerima arus yang berlebihan. Dan tubuh kita ini sama, sering terpapar oleh berbagai arus berlebih dari paparan layar, WiFi, dan berbagai arus yang lain. Semua itu dapat membuat aliran listrik di dalam tubuh kita berlebihan. Untuk menetralisir harus dilakukan grounding.
Lalu di film tersebut membuktikannya dengan menunjukkan sebuah alat yang ditempelkan pada tubuh manusia. Jika kaki seseorang menginjak tanah atau rumput, maka alat yang dipegang orang tersebut akan menyala. Itu indikasi bahwa dirinya terhubung dengan bumi sehingga terjadi proses netralisasi alami dari arus yang berlebih. Sementara orang yang menggunakan sepatu, meskipun memegang alat, indikatornya tidak menyala karena ia tidak terhubung dengan bumi. Itulah kenapa orang-orang modern seperti sekarang yang suka memakai alas kaki termasuk sandal dan sepatu, disebut hampir 24 jam tidak terhubung sama sekali dengan bumi. Sehingga dalam tubuhnya terdapat kelebihan arus yang perlu dinetralkan.
Orang di masa lalu –ketika belum ada sepatu dan sandal—setiap hari terhubung dengan bumi. Berbagai penyakit dan beban hidup di dalam pikiran mereka diduga lebih ringan dibandingkan dengan problem orang masa kini. Orang dulu—bukan hanya tidak memakai sepatu—ketika mereka tidur pun biasa beralas gelaran yang terbuat dari daun pandan, dan itu seringkali di atas tanah langsung. Artinya, mereka grounding dengan bumi hampir 24 jam. Sementara orang sekarang hampir 24 jam tak pernah menyentuh tanah. Rumah sudah berlantai keramik, jalan-jalan sudah dilapisi aspal, kita tidur di atas kasur dan ranjang.
Setelah semalaman melihat film tersebut, esok pagi harinya, kami memutuskan keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Kami ingin berjalan di atas rumput dan tanah, serta terkena paparan matahari. Jalan di depan rumah kontrakan kami sudah dilapisi beton. Setelah berjalan beberapa meter menyusuri jalan beton ini, kami ambil jalan belok ke kiri dan langsung menemukan jalan bebatuan yang keras. Lalu kami belok kanan lagi, di sana terdapat jalan setapak yang dilapisi rumput di atas tanahnya.
Kami benar-benar merasakan kaki kami menyentuh tanah dan rumput, berharap arus berlebih yang ada di tubuh kami dapat ternetralisir seperti yang dikatakan film. Kami sebelum melihat film tersebut sudah punya keyakinan bahwa berjalan tanpa alas kaki adalah sesuatu yang baik untuk tubuh.
Dalam perjalanan pagi itu, kami ingin memutari di kompleks perkampungan tempat tinggal kami. Sesekali kami berhenti, dan saat itu kami tengah menikmati pagi yang dingin di sebuah kebun singkong. Dari ujung pandangan kami, terlihat seseorang yang sudah lanjut usia mendekat ke arah kami menggunakan sepeda kayuh. Kami sengaja diam dan mungkin orang itu akan melewati kami begitu saja. Namun kemudian ia berhenti di dekat kami.
“Mau ke mana, Pak?” terpaksa kami harus basa-basi membuka percakapan.
“Lihat tanaman. Di sini masalahnya tanaman singkong dimakan tikus,” jawabnya
“Asil orang mana, Pak?” tanya kami lagi.
“Banyuwangi, Jawa Timur.”
“Kami juga dari Jawa Timur.”
“O, berarti bisa bahasa Jawa?”
“Gih, saget, Pak!”
“Sami nek ngoten.”
Ia turun dari sepedanya dan berjalan menuju sebuah gubuk yang ada di tengah kebun tersebut. Kemudian mempersilakan kami ikut duduk di sana. Kami pun menyanggupi ajakannya. Di gubuk itu, kami bicara tentang masa lalunya.
Sebut saja namanya Sulaiman. Pertama kali ia datang ke Papua sebagai tukang batu. Ia ingat saat pertama kali datang ke Sorong, alun-alun Aimas masih berupa pondasinya saja. Kedatangannya bersamaan saat pemerintahan Soeharto marak melakukan pembangunan fisik di sejumlah daerah. Saat itu juga populer program ABRI Masuk Desa (AMD) yang membuat proyek pembangunan di berbagai pelosok, termasuk di Papua, banyak dikerjakan. Di antaranya karena program itulah, Pak Sulaiman mendapatkan banyak pekerjaan.
Melihat banyak pekerjaan di Papua, ia lantas mengajak istrinya. Ia suruh istrinya untuk jadi tukang masak untuk para pekerja dalam proyek di mana ia sendiri ikut bekerja di sana.
Sekian waktu berjalan, ia sempat ikut program transmigrasi swakarsa. Artinya, ia diberikan sebuah tempat tinggal dan lahan sekitar 1 hektar oleh pemerintah, tapi untuk biaya hidup selama sekian tahun tidak ditanggung oleh pemerintah. Pada akhirnya, ia harus melepaskan lahan yang dimiliki tersebut untuk keperluan pendidikan anak-anaknya.
“Kami harus menyekolahkan anak-anak agar mereka tidak menderita seperti orang tuanya ini,” begitu katanya saat bercerita tentang masa lalunya.
“Kami tidak ingin anak-anak kami seperti anak-anak muda yang ada di sini (Papua). Minum lalu tidur di pinggir-pinggir jalan. Apa yang mau dibanggakan dari hal semacam itu?”
“Saya pernah membangunkan sebuah rumah untuk orang sini. Sudah kami buatkan sangat bagus. Tapi beberapa bulan kemudian, saya lihat kembali rumah itu sudah ditumbuhi rerumputan di tembok-temboknya, seperti tidak terurus
“Kenapa itu bisa terjadi?” tanya kami.
“Karena sering ditinggal tidur di pinggir jalan karena mabuk.”
Setelah anak-anaknya tamat sekolah di Jawa, ia mengajak anaknya satu per satu yang sebelumnya diasuh oleh neneknya. Dan sekarang anak-anak Pak Sulaiman bertiga disebut bisa hidup mapan dengan kegiatan mereka masing-masing. Anak pertama jadi guru Penjaskes di salah satu sekolah di Sorong. Kemudian anak kedua bekerja di bidang kelautan, tinggal di Sorong juga. Semua sudah berkeluarga dan semuanya sudah berumah-tangga, kecuali yang terakhir, masih tinggal bersamanya.
“Anak ragil yang pantas, sesuai tradisi, mewarisi dan menempati rumah peninggalan orang tuanya,” begitu ia menjelaskan.
“Tapi kalau dalam kerajaan kenapa tahta raja diberikan kepada anak pertama?” tanya kami sekadar bercanda.
“Itu kalau kedinastian. Kita rakyat biasa tidak seperti itu.” Jawabnya singkat.
Ia mengungkapkan bahwa leluhurnya berasal dari Mataram (Yogyakarta). Kemudian mereka berpindah-pindah dan sampai di Banyuwangi. Dan Pak Sulaiman pun lahir di Banyuwangi.
“Saya hanya punya delapan saudara,” ucapnya.
“Hanya?”
“Ya, delapan. Semuanya jadi tukang. Semuanya jadi tukang kayu, hanya saya yang jadi tukang batu.”
Ia sudah lama menjalani profesinya tersebut sebelum akhirnya pensiun sekitar 5 tahun lalu.
“Sekarang berada di ketinggian 2 meter saja rasanya sudah gemetar. Anak-anak juga sudah tidak memberikan saya izin untuk bekerja. Makanya, kegiatan saya sekarang cuma olahraga kayak gini, bersepeda dan lihat kebun.”
Sepeda yang ia gunakan lumayan butut. Sepeda mini yang biasanya digunakan anak-anak putri remaja.
“Lahan ini tanah kavling, dulu dibeli sekitar 67 juta oleh anak saya. Karena belum ada bangunannya, saya gunakan untuk tanam singkong. Mungkin lahan ini akan mahal beberapa tahun mendatang.”
“Singkongnya kalau panen dijual ke mana, Pak?”
“Dimakan sendiri.”
Perbincangan kami di gubuk itu cukup panjang. Beberapa waktu kami hanya diam tanpa berkata apapun. Lalu sebelum pulang, kami ingin menanyakan sesuatu yang sangat berarti selama ia hidup.
“Apa yang patut Bapak syukuri setelah hidup sekian panjang?”
“Saya bersyukur pernah mengalami hidup di masa ketika listrik belum ada. Kemudian mulai ada televisi dan radio. Dan sekarang ada barang seperti ini, di mana radio dan TV ada sini.” Di kalimatnya yang terakhir, ia menunjukkan ponsel Android yang baru dikeluarkan dari tas plastik bersama kotak tembakau.
08 September 2026. BERSAMBUNG......

0 Comments