Mufakat Memulai dari Hal Kecil (XV)

Ini adalah ketiga kalinya kami bertemu dengan warga kampung Posa dalam forum pendampingan revitalisasi lembaga ekonomi di kampung tersebut. Harapannya, ketika kami pulang, koperasi di kampung ini bisa berjalan dan punya aktivitas. Minimal seperti itu. 


Dan di pertemuan yang ketiga ini, agendanya adalah simulasi atau praktik Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang menjadi ruang musyawarah bagi anggota koperasi, untuk menghasilkan mufakat yang akan kita kerjakan bersama-sama ke depannya. 


Singkat cerita, kegiatan berjalan lancar. Ada beberapa orang yang menyampaikan usul tentang apa yang perlu dilaksanakan ke depannya untuk mewujudkan koperasi yang bisa berjalan seperti koperasi-koperasi pada umumnya.


Memang tidak mudah membuat kesepakatan bersama. Namun pada akhirnya, kami sepakat bahwa untuk menjadi anggota koperasi di kampung Posa ini harus bersedia membayar iuran pokok sebesar 50.000 yang dibayarkan sekali selama menjadi anggota. Kemudian kami juga sepakat ketentuan iuran wajib sebesar 10.000 yang dibayarkan setiap bulan. Dari pengumpulan dana inilah yang nantinya akan kami jadikan modal usaha koperasi.


Meskipun jumlah total yang terkumpul nilainya tidak terlalu besar, tapi kami sudah cukup senang. Sebab di tahap ini yang kami targetkan adalah masyarakat Posa bersedia menjadi anggota koperasi sehingga terkumpul modal untuk membuat unit usaha yang kami sepakati bersama dalam RAT tersebut. 


Kami tidak tahu berapa modal yang akan terkumpul nantinya. Oleh karena itu, kami pun perlu mendiskusikan unit usaha yang sesuai dengan potensi modal yang terkumpul. Ada usulan bahwa unit usaha yang akan didirikan ialah toko sembako. Tempatnya akan disediakan oleh Pak Subandi yang memang punya beberapa bangunan pribadi yang bisa dimanfaatkan untuk sementara waktu.


Sesuatu yang sangat membuat kami semangat adalah, jika seremoni pembukaan koperasi secara fisik dapat dilakukan dengan memanfaatkan bangunan yang disediakan oleh Bapak Subandi akan terwujud, itu akan menjadi sesuatu yang bagus. Setidaknya apa yang kami kerjakan selama ini di kampung Posa benar-benar membuahkan hasil yang tampak mata, yaitu adanya bagunan fisik koperasi di kampung Posa. 


Di kampung Posa sendiri belum memiliki gerai Koperasi Desa Merah Putih. Dijanjikan dalam waktu dekat akan dibangunkan, bagaimanapun, semua itu belum pasti kapan. Maka jika kami mampu membuat gerai sementara untuk koperasi di kampung Posa ini akan sangat bagus. Pertama, menunjukkan bahwa masyarakat kampung Posa mau berusaha. Kedua, hasil kerja kami sebagai Tim Ekspedisi Patriot akan tampak secara fisik. 


Dan itu didukung dan diharapkan akan terwujud oleh Pak Sutarjo selaku Sekretaris Dinas yang bertanggung jawab salah satunya pada bidang koperasi. Saat hadir memberikan sambutan sebelum RAT dimulai, ia menyampaikan pesan bahwa apa yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot di kampung Posa sangat luar biasa. Masyarakat kampung Posa diharapkan mau mengambil inisiatif untuk mewujudkan Koperasi Desa Merah Putih di kampung tersebut. Dan Dinas Koperasi siap melakukan pendampingan lanjutan. 


Memang benar kata Pak Sutardjo, jika kita tidak mau mengambil langkah sedikit demi sedikit, maka tidak akan pernah mengalami kemajuan. Itulah yang kami lakukan dalam pengabdian ini. Kami mungkin tidak akan menciptakan sebuah sistem yang langsung berjalan. Tapi paling tidak, kami sudah mengambil langkah-langkah awal, menyebar benih, dan kami tidak tahu apakah benih yang kami tabur tersebut akan berbuah atau tidak. Kami hanya berusaha sesuai kemampuan. 


Orang-orang sukses tidak membangun kerajaan bisnisnya sekali langsung jadi. Banyak dari mereka yang memulai dari sesuatu yang kecil. Mereka pernah mengalami kegagalan, lalu bangkit lagi, kemudian gagal lagi, bangkit beberapa kali lagi, dan akhirnya sukses. Dan puncak kesuksesan itu yang biasanya dilihat orang. Sementara kegagalan dan kepahitan perjuangan jarang sekali mendapatkan perhatian. 


Satu contoh, di tempat kami ada unit usaha bernama Laskar Buah (toko buah). Banyak orang mengira Laskar Buah muncul di mana-mana karena didukung modal besar.  Saat ini, Laskar Buah memiliki cabang kurang lebih 130 gerai di berbagai kota. 


Ternyata, usaha ini sudah berlangsung sejak lama sebelum menjadi besar seperti sekarang. Muhtadi, sang pemilik memulai usahanya tersebut sebagai penjual salak dari kebun temannya sendiri yang ada di salah satu kawasan di Bojonegoro. Setelah itu, ia jualan buah musiman di pasar dan gagal. Ia tidak menyerah dan akhirnya menjadi penjual buah model ‘kaki lima’ di beberapa titik di kota Bojonegoro. Tidak sekali ia diusir oleh Satpol PP karena jualan di pinggir jalan perkotaan. Dan akhirnya, ia berpikir untuk sewa tempat yang permanen.


Nah, dari segala pengalamannya tersebut, ia kini menguasai berbagai aspek dalam usaha buah mulai dari sistem distribusinya, kebutuhan pasar, pola manajemennya, dan lain sebagainya. Itulah yang pada akhirnya membuat Laskar Buah bisa berhasil  dan masih berjalan hingga sekarang. Usaha tersebut sekarang telah mempekerjakan sekitar seribu karyawan. Dan usaha ini disebut sudah auto-pilot. Artinya, sudah bisa berjalan sendiri tanpa kehadiran pemiliknya.  


Kini, pemilik Laskar Buah tersebut justru mencoba terjun ke dunia politik. Ia ingin mengabdi yang lebih berdampak luas untuk masyarakat Bojonegoro, katanya. Ia yakin, melalui karier politiknya ini, ia bisa memberikan kontribusi pengabdian yang lebih besar untuk kota tercintanya. 


“Kami ingin Laskar Buah menjadi ikon Bojonegoro. Dan politik adalah dunia yang benar-benar baru bagi saya. Antara politik dan usaha ini tidak akan saling mengganggu satu sama lain. Sebab, usaha Laskar Buah ini sudah bisa berjalan sendiri karena ditangani oleh para pemuda yang kompeten dan penuh kreativitas. Justru kalau saya masih terlibat di manajemen Laskar Buah, akan menghambat lajunya karena kehadiran saya yang sudah tua,” jelas Muhtadi ketika ditanya dalam sebuah program podcast bersama Radar Bojonegoro TV.


Itulah maksud kami, bahwa banyak orang melihat usaha maju ketika di puncaknya saja. Sedikit sekali yang mengetahui perjuangannya dari bawah.


Sementara itu di Distrik Klamono dan lebih spesifiknya di kampung Posa ini, dalam sejarahnya belum pernah ada koperasi yang didirikan kemudian berhasil. Jika yang kami lakukan ini pada akhirnya gagal, bagaimanapun hal itu akan menjadi sebuah pengalaman yang berharga. Dan jika berhasil, kami pun tidak mengharapkan hasil yang sangat luar biasa. Harapan kami, koperasi yang kami dampingi ini minimal punya aktivitas usaha dan terbukti berjalan. Meskipun hasilnya tidak maksimal itu tidak masalah. 


Atau barangkali, koperasi di kampung Posa yang kami dampingi ini membutuhkan beberapa kegagalan sebelum menjadi lembaga ekonomi yang kompeten dan berkelanjutan? Kami tidak tahu, yang pasti kami ingin selalu memberikan yang terbaik sejauh yang kami mampu. 


Tidak mudah membangun sebuah usaha yang segera mapan dan berkelanjutan. Akan ada tantangan-tantangan di depan. Bahkan bisa jadi koperasi di kampung Posa ini hanya akan berjalan ketika kami di sini, kemudian berhenti ketika kami meninggalkannya. 


05 September 2026. BERSAMBUNG....


0 Comments