Kami sangat akrab dengan Oktovianus Kolin, pria yang menjabat sebagai Kepala Distrik Klamono itu. Di akhir pekan, kami sengaja janjian bertemu. Dan kami duduk di teras rumahnya dalam suasana yang santai. Non-formal. Kami ingin tahu banyak hal tentang Klamono atau cerita hidupnya sebagai orang yang lahir dan besar di kawasan tersebut.
Meskipun hari sudah siang, udaranya cukup nyaman. Semilir angin di teras rumah yang dikelilingi tembok setengah badan dapat menjangku tubuh kami, membuat tidak gerah, meskipun di luar matahari cukup terik.
Rumah Pak Okto tepat berhadapan dengan Balai Kampung Posa. Rumahnya tidak terlalu besar. Di sampingnya ada beberapa kolam ikan tawar yang sedang ia kembangkan bersama kelompok pembudidaya di kampungnya. Sebab kampung di mana ia tinggal berada di Ring 1—dekat dengan lokasi PT. Pertamina—kelompoknya tersebut sering menerima bantuan-bantuan dari perusahaan minyak tersebut. Misalnya bantuan teknologi water threatment, dan yang terakhir panel listrik tenaga surya.
![]() |
| Oktovianus Kolin, Kepala Distrik Klamono, saat menyambut kunjungan Tim Ekspedisi Patriot di halaman kantor. |
Pembawaan diri Pak Okto, menurut kami, sangat menyenangkan. Ia mudah akrab dengan siapapun. Ketika pertama kali kami bertemu dengannya, kami menyimpulkan bahwa ia orang yang ramah, murah senyum, dan suka bercanda. Itulah yang menyebabkan kami mudah akrab dan tidak sungkan untuk datang ke rumahnya di luar jam kerja.
Dalam beberapa kesempatan, ia pernah bercerita kepada kami bahwa ia pernah berkunjung ke sejumlah negara di luar negeri. Yang terakhir, ia ditugaskan oleh Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia untuk mengikuti sebuah acara di Tiongkok berkaitan dengan program pengentasan kemiskinan. Dan ia tampak bangga dengan pencapaian itu.
Pak Okto ini pemuda lokal yang lahir dan besar di Klamono. Orang tuanya adalah mantan pekerja di perusahaan Pertamina. Sebagai anak dari pekerja di perusahaan minyak dan gas tersebut, maka keluarganya pun tinggal di kawasan pemukiman di sekitar perusahaan—yang pernah kami ceritakan pada bab sebelumnya. Masa kecil Okto tentu saja dihabiskan di pemukiman tersebut (sekarang menjadi Kampung Klamono Olie), dan ia menempuh pendidikan dasar di sekolah Pertamina yang tak jauh dari rumahnya.
Sejak ia kecil, perusahaan Pertamina di Klamono sudah beroperasi dan tengah mencapai masa jaya-jayanya. Ia masih ingat bagaimana proses Pertamina mengeluarkan lilin parafin (paraffin wax) dari pipa-pipa di sepanjang jalan Klamono. Ketika minyak mentah itu dimuntahkan, hal itu menjadi tontonan yang sangat menarik untuknya dan teman-temanya. Namun di sisi lain, juga menghalangi jalannya saat akan berangkat ke sekolah karena zat ini punya suhu sangat panas dan mudah mengeras saat suhunya turun.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan sekolah menengah pertama (SMP) di Klamono, Okto berkelana ke Sorong. Ia menempuh pendidikan SMA di Sorong. Di masa remajanya ini tak kalah menariknya dengan masa kecilnya. Justru di masa muda inilah banyak sekali kisah hidupnya yang bisa dikenang.
Layaknya para remaja lainnya, ia juga melalui proses panjang dalam mencari jati diri manusia. Ketika meninggalkan kampung halamannya, ia tak mau bergantung sepenuhnya pada orang tua. Maka sambil sekolah, ia bekerja di sebuah bengkel otomotif yang membuatnya akhirnya bisa mengemudikan mobil. Dengan keterampilan itu, setelah pulang sekolah, ia gunakan waktunya menjadi sopir taksi (angkot). Dari profesi itu, ia bisa membiayai dirinya sendiri hingga menyelesaikan sekolah sampai kuliah tanpa membebani orang tua.
Dan di masa itu juga, ia pernah beberapa kali masuk penjara. Di antara penyebabnya ialah perkara kelahi. Ia juga mengaku suka mabuk ketika masih muda.
“Bandel sekali dia itu,” kata seorang perempuan dari dalam rumah, ketika Pak Okto menceritakan kenangan masa mudanya.
Pak Okto hanya terkekeh mendengar celetukan itu. Ia tahu suara itu berasal dari mulut istrinya. Namun ia tak membalas. Kemudian ia melanjutkan menceritakan kisah perjalanan hidupnya.
“Jadi, waktu itu saya menjadi sopir taksi. Ada teman sopir mau mencuri aki mobil. Sebenarnya saya tidak terlibat dalam aksi itu. Tapi saya malah dituduh yang melakukan. Saya tidak bisa mengelak karena kebetulan saya memang berada di tempat kejadian.”
“Nah, di lain waktu, ketika saya bertemu dengan teman sopir yang menuduh saya, saya hajar sampai akhirnya saya dipanggil polisi dan ditahan beberapa hari,” kenangnya, sambil tersenyum lebar karena menganggap itu adalah hal konyol yang pernah dialami.
Setelah lulus dari SMA, Okto melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Sorong. Ia mengambil bidang studi Pendidikan Agama Kristen.
“Cita-cita saya waktu itu ingin jadi pelayan gereja,” demikian ucapnya.
Namun setelah lulus dari perguruan tinggi, ia bekerja di perusahaan Pertamina
“Akhirnya bukan menjadi pelayan gereja, tapi menjadi pelayan Pertamina,” candaan kami untuk mencairkan suasana.
Di Pertamina, ia bekerja sebagai sopir. Ia menjalani profesi tersebut beberapa tahun sebelum akhirnya mengajar di sekolah SD Pertamina di mana dulu ia pernah sekolah ketika masih kecil.
Kemudian, ia mengikuti seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai guru. Sebagai abdi negara, ia pun harus terima ketika ditugaskan di tempat yang cukup jauh dari kampung halamannya. Dan ia melakukan tugas itu dengan baik. Saban hari, fokusnya adalah mengajar dan terus mengajar. Ia bahagia menjalani profesi itu karena paling tidak dengan tugas ini ia dapat mewujudkan impiannya sebagai pelayan: menjadi pelayanan untuk anak-anak Papua yang ingin mendapatkan pendidikan lebih baik.
Singkat cerita, di tengah tugasnya sebagai pendidik, ia dikenal oleh Bupati Sorong waktu itu. Pada satu kesempatan, ia bertemu langsung dengan orang nomor satu di Kabupaten Sorong tersebut. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba ia ditawari menjadi Kepala Distrik Klabot, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sorong Selatan.
“Darah saya rasanya seperti berhenti saat itu. Gemetar sampai tak mampu berdiri ketika mendengar tawaran itu,” ujarnya.
“Saya pun tak tahu apa yang harus saya lakukan ketika menjadi Kepala Distrik.”
Saat itu juga, Bupati memberi tahu kepada Kepala Bagian Kepegawaian untuk menyiapkan surat pengangkatan Okto sebagai Kepala Distrik di kawasan yang dimaksud. Ya, tugas itu akan diberikan kepada seorang guru yang telah beberapa tahun terakhir mengabdikan diri dengan baik di daerah pedalaman dan terisolasi
“Setelah beberapa hari bertugas, saya baru sadar apa tugas saya sebenarnya. Saya ditugaskan sebagai pembuat garis batas yang jelas antar wilayah kami dengan kabupaten sebelah. Beberapa kali kami harus menghadap Mahkamah Agung (MK) saat terjadi sengketa. Itulah tugas utama saya saat itu. Dan di distrik itu saya bertugas selama delapan tahun sebelum akhirnya pindah ke Distrik Klamono ini,” jelasnya.
Ia bekerja nyaris tanpa hambatan ketika menjabat sebagai kepala distrik di Klabot sampai akhirnya ia dipindahtugaskan di Klamono. Justru di Klamono yang merupakan kampung halaman sendiri, ia menghadapi berbagai tantangan.
Pada suatu ketika, karena masalah sengketa tanah adat yang terjadi saat itu, saat akan berangkat kerja ke kantor distrik, langkahnya dicegat atau “dipalang”. Untuk mengatasi masalah itu, ia tak habis akal. Ia langsung bertemu dengan tokoh adat. Ia ajak duduk bersama dalam suasana keakraban untuk berdiskusi dan membicarakan tuntutan dari mereka.
Lalu untuk membuktikan ketulusannya sebagai pelayan untuk masyarakat Klamono, ia langsung merencanakan pembangunan jalan-jalan yang menghubungkan antar kampung. Ia bergegas dan kerja cepat berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong untuk melakukan pengerasan jalan di sejumlah titik di Klamono, salah satunya jalan di depan Kantor Distrik yang sebelumnya rawa-rawa berlumpur setinggi lutut. Pada akhirnya, seperti yang dapat dilihat sekarang, jalan-jalan tersebut menjadi infrastruktur yang layak dan memudahkan mobilisasi masyarakat.
“Banyak orang pintar. Namun kepintaran itu tidak akan berguna jika tidak mampu dibuktikan dalam tindakan nyata,” kata Pak Okto.
“Dan orang yang bisa bertindak nyata akan memancarkan kharisma. Dan dengan kharisma itulah, orang akan mudah dipercaya dan disenangi banyak orang,” sambugnya, yang kemudian kami catat dalam benak kami sebagai nasihat yang bijak.
Ia juga menitipkan pesan kepada kami bahwa kenakalan masa muda mungkin akan dialami siapa saja, dan itu mungkin bisa menjadi aib. Tapi bagaimanapun, itu semua adalah pengalaman hidup yang bisa menjadi bekal untuk melangkah ke masa depan.
“Jadikanlah pengalaman sebagai guru, jangan tiru hal buruknya tapi ambil sesuatu yang bisa menjadi pelajaran agar tidak jatuh pada lubang kenistaan yang sama,” pesannya.
Menduduki jabatannya saat ini, ia menyadari masih banyak hal yang perlu diperjuangkan. Ia ingin seluruh warga Klamono, khususnya di kampung-kampung terpencil yang sulit dijangkau juga mendapatkan kesejahteraan dan bebas dari penderitaan kemiskinan. Ia menyebutkan, masalah utama yang harus segera diselesaikan adalah masalah infrastruktur di kampung-kampung terpencil. Ia ingin memastikan akses jalan yang layak untuk seluruh kampung.
“Jika infrastruktur tersebut dapat dipenuhi, saya yakin masyarakat akan tumbuh. Orang-orang akan lebih mudah untuk menjual hasil panennya ke pasar, anak-anak bisa sekolah dengan baik, dan mereka juga mudah untuk mengakses fasilitas kesehatan. Jika hal tersebut dipenuhi, maka akan tumbuh harapan dan masa depan yang lebih baik,” ucapnya tegas, sementara matanya berkaca-kaca.
23 Agustus 2026. Bersambung....


0 Comments