‘Pakar’ Koperasi dan Ancaman Peluru (VIII)

Tiba-tiba kami harus bicara tentang koperasi di hadapan para hadirin di Balai Kampung Posa. Para hadirin akan datang untuk menyimak penjelasan kami, juga akan mengikuti arahan yang kami berikan. Padahal sebenarnya, kami semua bukan ahli dalam mengelola sebuah koperasi. 


Haris sedang beraksi menyampaikan materi di depan para peserta pelatihan di Balai Kampung Posa. 


Tim kami yang beranggota lima orang itu, tak ada satupun yang memiliki latar belakang pendidikan formal perkoperasian. Haris dari jurusan Sastra Inggris, Agung lulusan Pendidikan Teknik Informatika, Muis dari Ilmu Komunikasi, Arum dan Novika ahlinya di bidang Teknologi Pertanian. 


Sedikit pengetahuan kami tentang koperasi hanya karena Haris pernah menulis buku biografi seseorang yang sukses mengelola koperasi, yaitu Moh Wahyudi (Presiden Direktur BMT NU Ngasem Group). Di bab selanjutnya nanti akan kami ceritakan bagaimana Moh Wahyudi pada akhirnya juga datang ke Klamono untuk mengisi pelatihan perkoperasian untuk kelompok masyarakat di kawasan transmigrasi yang kami dampingi. 


Dalam proses menulis buku itu, Haris memang banyak mendengar istilah yang berkaitan dengan koperasi. Meskipun tidak paham istilah-istilah itu sepenuhnya, tapi pernah dengar sudah lumayan menjadi bekal. Lalu kami mencari informasi lebih lanjut dari istilah yang sedikit dipahami tersebut. Dan dari pengetahuan dasar itulah, kami gunakan sebagai bahan materi untuk para hadirin yang akan datang pada kegiatan pelatihan perdana dan selanjutnya nanti.


Seperti yang pernah kami jelaskan di bab sebelumnya bahwa proposal kegiatan yang kami ajukan kepada Kementerian Transmigrasi adalah integrasi lembaga ekonomi di kawasan transmigrasi Klamono dengan Kopearsi Desa Merah Putih. Harapannya, dengan mengimplementasikan sebuah model integrasi antar lembaga tersebut dapat memberikan dampak baik, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi.  


Kami menjadikan Kampung Posa sebagai kampung percontohan dalam mengelola koperasi. Alasan kenapa kampung ini menjadi percontohan alasannya sangatlah simpel. Sebab, kampung inilah yang pertama kali kami kunjungi dan kami mendapat sambutan baik dari kepala kampung ketika kami menyampaikan rencana program kami. 


Sudah pernah kami ceritakan sebelumnya, jadi pada saat kami berada di warung Bude Lele, kebetulan kami sedang mencari informasi rute untuk mengunjungi 10 kampung yang ada di Distrik Klamono. Sebagai langkah awal, kami ingin berkunjung ke kepala kampung di mana warung Bude Lele berada. Singkat cerita, kami langsung diarahkan ke rumah Kepala Kampung Posa. Ternyata rumahnya tidak jauh dari warung Bude Lele. 


Lalu kami segera menghubungi Kepala Kampung Posa, dan  ia sedang berada di balai kampung. Kami segera datang ke balai kampung tersebut dan bertemu dengan kepala kampung. Di sana, kami disambut dengan baik kemudian kami mengenalkan diri masing-masing, lalu kemudian menjelaskan program-program yang akan kami lakukan.  


Kebetulan waktu itu juga ada Bapak Subandi yang merupakan Kepala Pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Posa. Dan kebetulan juga, Bapak Subandi ini merupakan mantan koordinator pengurus koperasi di seluruh kampung yang ada di Distrik Klamono. Sehingga kami bisa mendapatkan banyak informasi terkait kondisi koperasi di seluruh kampung yang ada di Klamono. 


Ia menjelaskan bahwa masalah pengurus koperasi, khususnya pengurus KDMP, rata-rata sama. Mereka masih minim pengetahuan tentang tata kelola koperasi. Sejauh ini, mereka hanya diarahkan untuk membentuk struktur pengurus. Itu atas perintah Presiden Prabowo yang menghendaki di setiap desa harus dibangun Koperasi Desa Merah Putih.  


Masalahnya, setelah membentuk pengurus, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya karena setelah itu belum pernah ada pengarahan lagi. Mereka hanya bisa menunggu pengarahan lanjutan yang tak kunjung mereka dapatkan. 


Lalu kami mendapatkan saran jika mau mengadakan kegiatan pendampingan terhadap pengurus koperasi bisa dimulai dari Kampung Posa. Pihak pemerintah Kampung Posa menyatakan siap membantu menyiapkan tempat dan apa saja yang dibutuhkan. Jika perlu, mereka juga siap untuk membantu mengumpulkan seluruh pengurus koperasi dari seluruh kampung di Distrik Klamono. Kata mereka, itu sangat memungkinkan karena Balai Kampung Posa mudah dijangkau karena lokasinya yang tidak jauh dari jalan utama Klamono. 


Kami mempertimbangkan usulan itu dan tidak butuh waktu lama untuk kami memutuskannya. Beberapa hari kemudian, kami melakukan konfirmasi kepada Kepala Kampung Posa bahwa kami sepakat akan menggelar acara kegiatan sosialisasi tentang program kami dan pelatihan yang akan kami lakukan selama empat bulan ke depan di kampung tersebut. 


Setelah itu, kami melakukan persiapan-persiapan yang dibutuhkan untuk mengelar kegiatan tersebut termasuk menyebar undangan, memesan makanan, cetak modul, banner, dan lain sebagainya. 


Ketika hari pelaksanaan, kami cukup merasa grogi karena ini kegiatan perdana. Kami datang lebih cepat satu jam dari jadwal yang tertulis di undangan.  Pukul 8.00 WIT kami sudah berada di lokasi, tapi di Papua pada jam segitu masih terasa sangat pagi. Belum banyak aktivitas yang dilakukan warga di luar rumah, kecuali anjing-anjing yang berkeliaran di pinggir jalan. 


Dan ketika waktu menunjuk pukul 9.00 WIT, baru sedikit orang yang datang. Kami khawatir dari 35 undangan yang kami sebar nantinya hanya sedikit yang datang sehingga kudapan yang sudah kami siapkan menjadi sia-sia. Baru satu jam kemudian, ruangan mulai tampak banyak orang dan mulai meluruhkan kekhawatiran kami. Sekira pukul 10.00 WIT, acara kami mulai meskipun undangan belum datang seluruhnya. 


Arum yang membuka acara tampak tegang. Katanya, semalaman tidurnya tak nyenyak karena memikirkan tugasnya ini. Bicara di depan orang memang bukan perkara mudah, apalagi jika tidak biasa. 


Meskipun ada beberapa kekurangan, namun rangkaian acara berlangsung sesuai harapan. Tidak ada kendala yang berarti. Pihak pemerintah kampung, distrik, dinas, dan tokoh masyarakat yang kami undang menyampaikan apresiasi mereka dalam pidato sambutan.   


Setelahnya, Haris yang bertugas sebagai pembicara pada pertemuan perdana ini  pun tidak lepas dari rasa grogi.  Ia menyampaikan materi yang telah kami siapkan bersama, yang poin utamanya adalah untuk membangun kesadaran masyarakat tentang arti penting dan peran koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan. Kami berikan contoh-contoh koperasi yang sudah berhasil. Dari contoh-contoh itu, mereka tampak tertarik. Dan itu tanda-tanda baik. 


Setelah sesi penyampaian materi utama selesai, beberapa hadirin berdiri untuk bertanya. Ada yang menyampaikan kendala-kendala dalam melakukan usaha. Sementara sebagian lain bertanya persoalan perkoperasian yang belum dipahami. Itu tanda kalau acara ini memikat perhatian mereka. Kami senang melihat itu. 


Lalu ketika kami berharap mereka dapat datang lagi pada pertemuan-pertemuan berikutnya yang akan kami lakukan, nyaris serentak mengucapkan bersedia. Itu membuat kami berkesiap.  


Selepas acara itu, kami dapat bernapas lega karena bisa dikatakan acara pertama ini sukses. Sebab, dari pertemuan pertama ini, kami rasa akan menjadi penentu kesuksesan di pertemuan berikutnya. 


Setelah beres bersih-bersih tempat dan lain sebagainya, kami sempatkan mampir di warung Bude Lele untuk sekadar pesan minuman untuk menghilangkan lelah dan merayakan kesuksesan acara yang kami gelar barusan. 


Foto bersama peserta pelatihan pengurus koperasi dan calon anggota koperasi Kampung Posa. 


Setelah itu, kami pergi ke kantor Distrik Klamono untuk minta tanda tangan Pak Okto. Di depan kantor distrik, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya dari kelompok lain tampak sedang berkumpul. Ketika kami turun dari mobil, seorang pria paruh baya (yang kemudian kami ketahui sebagai Sekretatis Distrik) menyapa kami. Ia tiba-tiba memberikan tugas kepada kami sebagai pembaca Teks Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dalam pelaksanaan upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-81 pada tanggal 17 Agustus nanti. 


Sebenarnya kami sedikit ragu menerima tugas itu. Untuk datang ke upacara Agustusan di kantor distrik pun kami takut.  Menjelang peringatan kemerdekaan 17 Agustus ini, baru saja terjadi tragedi penembakan pada warga sipil di daerah yang tak jauh dari Klamono. Di media sosial, beredar video amatir yang berisi ancaman dari kelompok separatis bersenjata, “Siapapun yang ikut upacara, meskipun anak sekolah, akan menjadi target kami.” 


Kejadian dan ancaman itu cukup membuat pikiran gelisah. Bagaimana jika saat pelaksaan upacara nanti, tiba-tiba benar ada peluru yang menyasar di kepala kami?


15 Agustus 2026.


Bersambung....

0 Comments