Transmigran Mapan (VI)

Pemandangan di alun-alun Aimas ketika sore hari, banyak orang memanfaatkan tempat ini sebagai arena olahraga.   


Di sekitar rumah kontrakan kami di Aimas, terdapat warung makan milik Bu Aminah (bukan nama sebenarnya). Setelah beberapa kali kami makan di sana, kami mendapat undangan makan gratis karena ada satu hajat yang tengah dirayakan. 


Distrik Aimas dulunya juga kawasan transmigrasi seperti Distrik Klamono.  Tapi Aimas saat ini wajahnya sudah berubah menuju menjadi kota besar. Dan Aimas adalah ibukota Kabupaten Sorong.  


“Dulu, awal saya datang ke sini, sepanjang mata memandang tidak ada rumah yang dapat dilihat kecuali hutan,” kata Bu Aminah.  


Ia mengingat kembali masa-masa itu. Sepi sekali. Ada perasaan ingin kembali ke Jawa setelah tinggal beberapa saat di Papua. Tapi urung karena harga tiket kapal sangat mahal untuk kondisi ekonominya saat itu.  


Ketika itu, usia pernikahannya baru enam bulan. Masih dalam suasana pengantin baru. Masih masa-masa bulan madu. Sebagai peserta program transmigrasi dari pemerintah, ia diberi rumah untuk ditinggali bersama keluarga kecilnya. Juga diberi lahan untuk digarap. 


Adalah impian setiap pasangan muda punya rumah sendiri. Punya kehidupan rumah tangga sendiri tentu lebih nyaman dibanding tinggal di rumah orang tua atau mertua. Mungkin itu yang menjadi pendorong utama bagi Bu Aminah mau pindah ke Papua waktu itu. Tapi bagaimanapun, dari Ponorogo Jawa Timur pindah ke Papua adalah pertaruhan yang mengandung ketakutan sekaligus harapan. 


“Tahun 1980-an, kami pindah ke sini. Rumah yang diberikan kecil. Dan kami diberi lahan untuk pertanian. Tapi sekarang lahan garapan itu sudah kami jual. Sekarang sisa lahan untuk rumah ini saja,” jelas Ibu Aminah. 


“Lumayan juga kemarin nilai jualnya,” ucap perempuan paruh baya yang merupakan anak Bu Aminah. 


“Saya anak pertama,” lanjutnya, ketika itu ia berdiri di samping ibunya. “Saya tinggal di sini bersama Ibu. Kalau adik tinggal di rumah sebelah bangunan ini.” 


Ia mengaku sudah jarang pulang ke kampung halaman ibunya dan mungkin tidak akan pernah berkunjung ke Jawa lagi. Tetua dalam keluarganya yang perlu dikunjungi sudah tidak ada, dan ibunya lah yang paling tua di antara seluruh keluarganya. Ia sendiri lahir dan besar di tanah Papua sebagai peranakan seorang transmigran. 


Dalam sebuah artikel Sejarah Transmigrasi Orang Jawa ke Papua menyebutkan bahwa pada tahun 1980-an proses perpindahan penduduk ke Papua tengah mencapai puncaknya. Tidak kurang dari 137.800 KK pada tahun 1984 (Repelita IV) orang transmigran berdatangan ke Papua. Untuk menyambut kedatangan itu, pemerintah menyiapkan lahan seluas 689.000 ha. Jumlah ini meningkat drastis dari Repelita I-II yang hanya berjumlah 41.701 orang.


Sebenarnya, kehadiran orang dari luar Papua sudah berlangsung sejak era kolonial Belanda. Waktu itu, pemerintah Belanda mengirimkan orang-orang dari berbagai daerah ke Papua dengan motif menjaga tanah koloninya. Dengan cara itu dinilai lebih efektif dan lebih hemat biaya daripada mengirimkan tentara. 


Kemudian, pemerintah Indonesia mengadopsi model perpindahan penduduk tersebut pada tahun 1950 dengan maksud mengurai kepadatan penduduk di tanah Jawa ke daerah lain yang masih banyak lahan kosong dengan istilah “Transmigrasi”. Sementara program transmigrasi ke tanah Papua baru dimulai pada tahun 1964.


Kondisi awal kawasan transmigrasi di Papua, kurang lebih sama seperti yang diceritakan oleh Ibu Aminah. Mula-mula pemerintah membuatkan Satuan Pemukiman (SP) untuk para transmigran. Dalam satu SP tersebut disediakan fasilitas-fasilitas dasar seperti tempat ibadah, fasilitas kesehatan, sekolah, dan lain sebagainya. Dalam satu SP ini biasanya terdapat penanggung jawab yang mengurus tata kelola SP tersebut. 


Seiring waktu, tidak menutup kemungkinan, orang yang terlanjur ikut program transmigrasi tidak betah kemudian meninggalkan rumah yang sudah diberikan oleh pemerintah. Mereka akan kembali ke kampung halamannya lagi atau pindah ke tempat lain. Akibatnya, ada beberapa rumah di SP menjadi kosong. Rumah yang ditinggalkan ini kemudian rusak atau menjadi semak belukar. Kadang juga dimanfaatkan transmigran lainnya. 


Dan jika kita melihat di kawasan transmigrasi, termasuk di Klamono, terdapat beberapa rumah kosong di kampung-kampung yang dulunya merupakan SP. Dugaan kami, di antara penyebabnya karena penghuninya tidak betah dan pindah ke tempat lain. 


SP dengan kelompok penghuni yang produktif dapat membuat area tersebut berkembang sedemikian rupa dan aktivitas ekonominya hidup. Pada tahap tertentu, SP tersebut statusnya bisa berubah menjadi sebuah kampung definitif. 


Salah satu perkebunan kelapa yang ada di Distrik Aimas

Anak-anak sedang bermain sepakbola di salah satu kampung di Aimas ketika sore hari. 



Penamaan kampung dari istilah SP1, SP2, SP3 dalam satu kawasan tidak bisa lepas dari pengaruh mayoritas warga yang menduduki SP tersebut. Misalnya di Klamono ada kampung bernama Wonosari yang dulunya merupakan mantan SP. Di kampung tersebut mayoritas penghuninya dari Jawa. Maka ketika SP tersebut menjadi sebuah kampung, digunakanlah nama Wonosari—nama yang identik dengan nama kampung di Jawa. Apapun namannya, tapi biasanya, warga transmigran ini lebih sering menggunakan istilah “SP” dibanding menyebut nama baru yang diberikan pada kampung tersebut. 


Seperti kampung di mana Bu Aminah tinggal, kampung tersebut dulunya juga area SP. Meskipun sekarang sudah punya nama kampung yang baru, tapi orang-orang lebih sering menyebut SP sekian.  Dan kampung Bu Aminah ini sudah jauh dari kesan kampung tertinggal. 


Tempat tinggal Bu Aminah sendiri berada tepat di pinggir jalan besar dengan pengeras beton. Jalan tersebut menjadi penghubung antar distrik dan juga salah satu pelabuhan di Kabupaten Sorong. Jalur tersebut selalu ramai kendaraan. Jauh dari kesan sepi. Di kanan dan kiri jalan, terdapat berbagai jenis bangunan seperti toko swalayan, bank, perkantoran, tempat ibadah, pasar tradisional, sekolah, hotel, bahkan cafe kekinian. Di sini bukan kampung yang sepi. 


Bangunan warung milik Bu Aminah cukup besar. Luasnya mungkin sekitar 6x4 meter, itu belum termasuk tempat tinggal yang ada di belakang warung tersebut. Ia menjual berbagai menu makanan olahan ala Jawa, tentu saja.  Selain menjual nasi dan lauknya, juga tersedia bakso dan mie ayam. 


Setahu kami, pengunjungnya tak pernah sepi. Orang pekerja kantoran atau orang yang sekadar lewat banyak yang mampir ke sana, termasuk kami Tim Ekspedisi Patriot. Warung pertama yang kami masuki di Papua adalah warung milik Bu Aminah ini. 


Kami langsung akrab dengan Bu Aminah sejak kami datang pertama kalinya.  Dari tatapan pertama, kami sudah tahu bahwa ia orang Jawa. Sehingga tidak sulit bagi kami untuk membangun obrolan basa-basi dan melempar candaan. Itulah kenapa kami pada akhirnya mendapat undangan makan gratis di hari itu. 


“Sekarang punya karyawan berapa, Bu?” tanyak kami. 


“Empat.” 


“Sering pulang ke Jawa?”


“Tidak. Sudah tidak ada keluarga lagi di Jawa. Kami tidak pernah pulang dan tidak akan pulang ke Jawa," jawabnya tegas.  


Selesai makan, kami pamit dan memanjatkan doa untuk Ibu Aminah dan keluarga, semoga selalu sehat dan rezekinya lancar. Kami sempat berfoto bersama, dan diam-diam kami memperhatikan perhiasan yang dikenakan oleh anaknya. Gelang emas yang hampir memenuhi seluruh pergelangannya. 


O, ternyata, pikir kami, jadi transmigran juga berpeluang besar menjadi orang yang mapan. Lalu buru-buru kami menangkal pikiran itu. Paling tidak kami perlu membuat kesimpulan ulang bahwa tidak ada kesuksesan kecuali dibarengi dengan perjuangan dan pengorbanan. Dan semua itu pastinya sudah dilewati oleh Ibu Aminah.  

 

 

12 Agustus 2026. 



BERSAMBUNG.....





Referensi:


Ardanareswari, Indira. (2019). Sejarah Transmigrasi Orang Jawa ke Papua. Diakses dari https://tirto.id/sejarah-transmigrasi-orang-jawa-ke-papua-egJs pada 12 Agustus 2026. 

0 Comments